Tuesday, April 06, 2004
Si Lajang

Membaca email "Don't push me to get married soon" yang banyak beredar di milis-milis, aku jadi teringat ibuku, yang sering sekali menguliahi aku tentang masalah kawin-mengawin. Tangkisan-tangkisanku yang bernada canda selalu dijawabnya dengan urutan dada. Tipikal percakapanku dengan Ibu adalah seperti ini.

Ibu: "Nduk, nduk. Kamu ini lho gonta-ganti pacar melulu. Mbok ya udah yang sekarang diseriuskan."
Aku: "Lha ini juga serius. Kalo nggak serius ngapain juga pacaran jauh-jauh dijabanin mam. Ngabis-ngabisin duit. Yang ini cinta bener nih."
Ibu: "Ah cinta, cinta. Yang dulu juga kamu bilang cinta. Nyatanya kamu yang bandel, nggak setia. Nggak serius."
Aku: "Lho mam, itu kan dulu. Boleh dong bersalah sekali, eh, udah lebih dari sekali ya hehehe. Tapi bukan berarti aku akan melakukan lagi lho."
Ibu: "Malah ketawa-ketawa gitu. Wong ditanya serius apa enggak kok."
Aku: "Lho, ini serius ini, mam. Kan udah beli tanah bareng."
Ibu: "Ah, dulu kamu juga pernah beli rumah bareng nyatanya juga nggak jadi. Maksud Ibu ya kalau serius gek ndang punya rencana gitu lho."
Aku: "Punya kok, ntar kami mau ketemu lagi bulan Juni. Trus Agustus. Trus November. Jalan-jalan terusss. Asiiiik." (sambil ketawa cekikikan)
Ibu: "Oalah nduk mbok yo kelingan umur to."
Aku: "Inget maaam, umurku baru 32."
Ibu: "Tigapuluh dua kok baru. Tigapuluh dua itu namanya sudah."
Aku: "Ya wis, udah 32 deh. Tapi aku lagi pingin optimis. Gelas bisa dilihat setengah penuh atau setengah kosong. Aku liatnya setengah penuh mam."
Ibu: "Ya kalo kamu itu masih lantung-luntung nggak keruan gitu kapan mau punya anak."
Aku: "Punya anaknya setelah married dong mam. Lha kalo aku punya anak sekarang mami dan babe sentres hehehehe...."
Ibu: "Ya iya jelas abis married. Tapi kalo married-nya nanti-nanti melulu nanti terlambat."
Aku: "Ah Ibu, sekarang kan jaman modern, orang umur 50 aja bisa ngelahirin kok."
Ibu: "Lha nanti anakmu masih sekolah kamu dah pensiun."
Aku: "Lho, kan nabung mam, dan punya persiapan. Itu lho kayak di buku 'Save or Sorry' itu. Itu buku tuh mam, bagus banget buat kita. Isinya tentang... bla...bla...bla..." (menggiring topik menjauh dari soal nikah).

Bisa kumengerti jika Bapak-Ibuku yang sangat aku sayangi dan hormati itu kuatir. Hampir semua teman sebayaku sudah menikah. Saat reuni SMA Santa Ursula tahun lalu, hanya tinggal segelintir rekan sekelasku yang juga belum menikah. Sebagian besar sudah berbuntut, bahkan ada yang sudah berbuntut 3. Kakak dan adik Bapak semua sudah bercucu, tinggal Bapakku yang belum, akibat kedua anak tertuanya, yaitu aku dan adikku masih "senang" melajang. Kata 'senang' di atas kuberi tanda kutip, karena keadaan ini terjadi bukan karena kami betul-betul senang melajang. Bagaimana bisa senang, kalau dalam setiap acara pertemuan keluarga, reuni ataupun kumpul-kumpul sesama teman, pertanyaan klise "Kapan?" selalu diajukan. Sehingga jawabannya pun standar: "Yah, mohon didoakan saja (Tante, Oom, Mbak, Mas, Pak, Bu)."

Mungkin memang sudah sikap manusia untuk lebih senang 'tenggelam' dalam keseragaman dan menolak yang berbeda. Semakin lama semakin aku sadari betapa budaya kita menuntut setiap individu untuk mengikuti jalan yang standar: sekolah-lulus-kerja-kawin-beranak-menyekolahkan anak-anak lulus-anak kawin-anak punya anak alias kita punya cucu dan seterusnya dan seterusnya. Yang anomali dianggap aneh dan dipengaruhi untuk menyesuaikan diri. Maka pertanyaan "Kapan?" atau "Apa lagi yang ditunggu?" selalu ditujukan pada kaum lajang di atas usia 25, dan juga pada pasangan muda yang belum mempunyai anak.

Jiwaku memberontak terhadap 'peraturan' tak tertulis itu. Mengapa hidupku harus ditentukan oleh orang lain? Bukan mereka yang harus menjalani dan mematangkan hubungan antara aku dan pacarku. Mereka tidak menjadi bagian dari usaha kami untuk saling mengenal, berkompromi, belajar saling mengerti dan berbagi. Jadi mereka tidak punya hak untuk memaksa kami siap menjalani bahtera kehidupan berkeluarga. Maka sikapku sekarang bisa diistilahkan 'cuek'. Tidak peduli apa omongan orang. Dan siap menertawakan pertanyaan "Kapan?" dengan jawaban-jawaban penuh canda. I'm happy with my life. Why should I care what other people say? Maka kunyatakan diriku sebagai orang yang bebas dari pengaruh tekanan masyarakat. Buatku status lajang atau kawin adalah hak pilih seseorang, dan pilihan yang sama bagusnya untuk orang itu.

Tapi ternyata tidak mudah bersikap begitu manakala aku harus melihat tekanan sosial jatuh pada Bapak dan Ibu, yang bukan seperti aku, adalah produk dunia lama. Kemarahan ini pernah melejit sampai ke ubun-ubun diiringi kebencian luar biasa, kala kudengar kata-kata salah seorang oom dengan penuh kebanggaan sembari melirik Bapakku, "Lihat ini lho, cucuku sudah lima, sementara kakakku ini belum punya satupun." Dan Bapakku, yang selama ini begitu bangga akan keberhasilan putri-putrinya di dunia akademis dan karir, tiba-tiba matanya mengeruh. Hampir kata-kata tajam berlidah api melayang dari mulutku menerjang oom dengan tanpa ampun. Sampai sekarang belum bisa kumaafkan beliau.

Hati ini makin lara ketika kudengar dari seseorang, bahwa Bapak pernah mempertanyakan: "Sebetulnya apa sih yang disebut sukses itu? Apakah adikku bisa dibilang lebih sukses, karena anak-anaknya langsung menikah setelah lulus dan bekerja dan langsung memberikan cucu-cucu, dibandingkan dengan aku yang anak-anaknya memilih untuk bersekolah lebih tinggi dan berkarir lebih jauh, sehingga tidak langsung menikah?" Ternyata Bapak yang tidak pernah memprotes pilihan-pilihanku sebetulnya juga diam-diam terpengaruh oleh tekanan sosial.

Maka diri ini yang tadinya jumawa menentang masyarakat jadi kempis juga, karena bukan cuma aku - yang bisa mentertawakan tekanan itu - yang diserang. Karena Bapak-Ibuku juga ikut menahan tekanan dari masyarakat, selain harus menahan diri untuk tidak ikut-ikutan menekan kami. Karena ini bukan hal yang mudah buat mereka. Harapku sekarang cuma agar Bapak-Ibu bisa sabar, menanti anaknya yang sibuk bertualang ini menyelesaikan gejolak-gejolak hatinya. Agar mereka bisa kuat menghadapi kesinisan masyarakat, sampai si bandel ini menemukan pelabuhan hatinya. Sampai si lajang ini menemukan orang yang tepat untuk bertukar komitmen. Sementara itu, doaku melambung penuh maaf pada kedua orang yang sangat kusayangi itu.

Jakarta 5 April 2004


Posted at 12:00 am by koeniel

Arek Suroboyo
September 12, 2007   02:53 PM PDT
 
Tulisan sampeyan practically incredible. Gak ada yang salah. But i feel mbak lalu jadi menyalahkan yang "diluar" mbak. Please, be more retrospective to yourself. Kenapa nggak mau ngalah, agar Bapak-Ibu bahagia? Bila mbak muslimah, awali dengan Bismillahi tawakaltu al Allah. InsyaAllah, YANG MAHA SAYANG ridha. Wish u have a best luck.
Lisa
February 3, 2007   05:50 PM PST
 
Sebenarnya sekolahpun bisa diteruskan setelah menikah. Tidak ada yang mengharuskan wanita berhenti bersekolah/bekerja/berkarir setelah menikah. Sewaktu saya mau menikah, banyak yang bilang kalo you need to see the world first/study further before you get married. Tapi nyatanya, kalo saya tidak menikah, until now I never see the world and doing my master degree. My husband is the one who support me to finish my master degree in Sydney.
Tetapi, emang bener kalau tidak ada peraturan yang mengharuskan kita menikah before 30. Menikah adalah hak azasi manusia yang bisa ditentukan oleh yang bersangkutan.
Niken
October 24, 2005   09:32 AM PDT
 
salam kenal dari niken ...

jadi apaan yang melatar belakangi terbentuknya mind set orang indo kalo nikah dan punya anak matters so much in society????
maybe if you understand your parents profile, lo bisa bantuin mereka ngertiin jalan hidup lo.
Kaliiii ajaaahhh, just a though

thanks yah dah boleh corat coret
ayu
November 26, 2004   02:44 PM PST
 
salam kenal ya...
gue alumni bubbles juga, tulisan lo ttg si lajang bagus banget. Kata2 lo tepat banget mengungkapkan hal2 yg jadi isi hati para cewe2 yg seperti ini.
Keep on writing ya...
(cah-ayu@plasa.com)
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • 2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON