Coretan Musim Semi: 3. Matahari
Kawan,
Seumur hidup tinggal di negeri bermandikan cahaya mentari seperti Indonesia
membuat kita tidak selalu bisa mengapresiasi kedahsyatannya. Keindahannya
ya, masih kuingat saat-saat kita duduk di atas tebing karang di selatan
Yogya, menunggu-nunggu sembulan kuning kemerahan di timur sana, sembari
mengumpat karena ikan-ikan tak doyan umpan kita. Ya, keindahannya, tapi
bukan kedahsyatan pengaruhnya dalam hidup kita.
Kusadari kekuatan itu sewaktu aku harus merasakan musim dingin di ujung
tanah Scotland yang dingin di utara sana. Tempat di mana beberapa bulan
dalam setahun matahari hanya muncul beberapa jam saja. Tempat saat aku
bangun jam delapan pagi dalam kegelapan, dan melongok keluar jendela kantor
pukul empat sore untuk melihat kegelapan lagi. Dingin, dingin yang ada.
Tempat tidur dan selimut tebal jadi sahabat terbaik. Wajah-wajah
tersembunyi di balik syal.
Lalu dua musim berikutnya, terdamparlah aku di ujung utara kawasan Amerika
yang bergurun, dan kualami terbangun dalam dunia terang benderang, dan
memandangi matahari terbenam di suatu teluk (sama seperti saat kita duduk
di atas tebing karang itu kawan, cuma tebing itu bukan tebing karang Yogya
kita) pukul sembilan malam! Betapa berbedanya! Dunia terasa lebih bergetar
dan berdegup, bahkan berirama. Wajah-wajah ceria, para pemuja matahari!
Hari-hari panjang, tawa pun panjang!
Setengah jam yang lalu, kutembakkan kameraku ke berbagai sudut kota ini,
memanfaatkan matahari yang tiba-tiba mencuat dari balik awan kelabu yang
selalu menghiasi hari-hari awal semi ini. Bayang-bayang panjang dari
pepohonan yang baru selesai berjuang di tengah dinginnya alam, tampak
ceria. Bahagianya aku melihat matahari! Bahkan angin dingin yang
menyengatpun terasa tak begitu dingin, karena hangatnya hatiku melihat
matahari!!
Reading, 4 April 2001