Monday, April 12, 2004
Bahagia menurut para ilmuwan

(dan sedikit sangkut-pautnya dengan perkawinan)

Mengapa ada perkawinan? Tanya temanku Lilik sebelum menyunting his (now) bojo from Solo. Aku jadi teringat pertanyaan itu ketika membaca dua artikel menarik dari majalah The NewScientist edisi lawas 4 October 2003 sembari mencoba menepis bosan pada penerbangan panjang dari Dubai beberapa waktu lalu. Dua artikel tersebut mencoba mengupas kondisi 'bahagia' dan penyebabnya.

Di artikel yang pertama dilaporkan tentang usaha para ahli untuk mempelajari 'kebahagiaan'. Mereka menemukan bahwa kata 'happiness' bisa punya banyak arti, dan tiap bangsa atau kelompok masyarakat bisa punya cara berbeda mengartikan 'happiness', tergantung dari latar belakang budaya mereka. Juga ditemukan bahwa tidak semua bahasa punya padanan persis kata 'hapiness'.

Dengan berbagai riset dan penelaahan statistik mereka mencoba mempelajari apa makna kebahagiaan dan bagaimana manusia mencapai kebahagiaan. Memang tidak mudah, karena dalam menelaah kebahagiaan ini perlu diukur bahagia secara rasa ('emotive') dan juga secara pikir ('cognitive'). Maka kadang bisa ditemui hasil yang sekilas kontradiktif, semisal kelompok masyarakat yang puas ('satisfied') tapi tidak bahagia ('happy'). Tapi pada umumnya kepuasan bisa dikorelasikan dengan kebahagiaan.

Dari hasil penelitian ditemukan bahwa di masyarakat berlatar budaya barat kebahagiaan biasanya datang dari sukses pribadi, ekspresi pribadi, kebanggaan diri dan penghargaan diri yang tinggi. Sebaliknya di negara-negara Asia kebahagiaan datang dari pemenuhan harapan keluarga dan masyarakat, dari pemenuhan kewajiban sosial, disiplin diri, kerja sama dan persahabatan. Sehingga bisa dikatakan bahwa di masyarakat barat orang mencapai kebahagiaan dengan mengejar kebahagiaan diri, sedangkan di budaya timur orang mencapai kebahagiaan dengan mengekang diri.

Kembali ke pertanyaan dan pertanyaan Lilik tentang perkawinan; ternyata menurut hasil riset para ilmuwan tersebut perkawinan merupakan salah satu faktor pembuat bahagia, seperti ditunjukkan di artikel kedua yang memberikan 10 tips menjadi bahagia, yang sudah dibuktikan melalui riset. Kesepuluh kunci kebahagiaan tersebut diberikan di bawah ini, berikut skor yang menunjukkan tingkat kepentingan tiap kunci dalam mencapai kebahagiaan pribadi.

1. Earn more money... up to a point (skor : 1/2)
Riset menunjukkan bahwa uang memang bisa membeli kebahagiaan, tapi hanya sampai batas tertentu. Setelah manusia bisa memenuhi kebutuhan utama - sandang, pangan, papan - 'daya beli' uang terhadap kebahagiaan menjadi menurun.

Dari riset ditemukan bahwa rata-rata orang kaya lebih bahagia daripada orang miskin. Ada memang orang kaya yang tidak bahagia dan orang miskin yang bahagia, tapi seorang kaya yang tidak bahagia tetap lebih bahagia jika kaya dibanding jika miskin. Namun hubungan antara uang dan kebahagiaan tidak sesederhana itu. Ternyata setelah kebutuhan minimal terpenuhi, yang menjadi kunci 'kebahagiaan' adalah memiliki lebih daripada lingkungan sekitar atau memiliki status. Jadi bukan jumlah absolut uang yang dimiliki, tapi status yang bersangkutan dengan jumlah uang itulah yang membuat orang 'bahagia'. Gaji sejumlah X memberikan kepuasan lebih apabila jumlah tersebut termasuk dalam posisi atas dalam kelompok gaji di sebuah perusahaan, daripada jumlah yang sama apabila jumlah tersebut termasuk posisi bawah.

2. Desire less! (skor: 2)
Ternyata nasehat para tetua kita untuk menahan diri sehingga kita merasa lebih bahagia ada benarnya. Melalui sejumlah kuesioner para ahli menemukan bahwa orang-orang yang cita-citanya berbeda terlalu jauh dengan kenyataan rata-rata merasa lebih tidak bahagia dibanding dengan mereka yang mengharapkan hidup yang tidak berbeda jauh dengan kenyataan.

Dalam beberapa pol para ahli menanyai sejumlah orang untuk menuliskan daftar barang-barang yang mereka butuhkan untuk hidup yang cukup baik. Ternyata setiap orang masih tetap mempunyai daftar 'wish list' untuk bisa bilang bahwa hidup mereka baik, walaupun mereka sudah punya barang-barang lebih dari orang lain.

3. Don't worry if you aren't a genius (skor: 0)
Penelitian belum bisa menemukan korelasi antara kecerdasan dan kebahagiaan. Sepintas kelihatannya seharusnya orang yang pintar bisa lebih mudah merasa 'lebih' dari sekelilingnya dan lebih mudah mendapatkan uang sehingga lebih mudah merasa bahagia. Tapi ternyata kepintaran seseorang bukan faktor penjamin kebahagiaan. Bisa jadi orang pintar lebih sering berharap terlalu tinggi sehingga lebih mudah merasa kecewa dengan pencapaian yang kurang dari pengharapan.

Lalu dinyatakan pula bahwa ukuran kecerdasan yang digunakan selama ini mungkin salah. Seharusnya bukan kecerdasan otak semata yang diukur, tetapi juga kecerdasan sosial, yang bisa jadi lebih merupakan faktor penentu kebahagiaan.

4. Make the most of your genes (skor: 5)
Setelah melakukan penelitian terhadap 4000 lebih kembar dewasa selama bertahun-tahun, seorang ilmuwan dari University of Minnesota menyimpulkan bahwa rasa nyaman dalam hidup kita setengahnya disebabkan oleh apa yang terjadi pada hidup kita saat itu, dan setengahnya lagi oleh 'modal' kebahagiaan, yang 90%nya ditentukan secara genetis. Jadi tingkat kebahagian kita pada dasarnya ditentukan oleh nenek-kakek kita, tetapi apakah kita akan lebih bahagia (lebih bersikap positif) dari itu, atau sebaliknya, ditentukan oleh lingkungan dan orang tua kita. Memang banyak penelitian menunjukkan bahwa kepribadian berhubungan dengan kebahagiaan. Mereka yang lebih ekstrovert cenderung lebih bahagia. Tapi tergantung lingkungan juga, karena di penjara orang-orang introvert cenderung lebih bahagia.

5. Stop comparing your looks with others....... (skor: 1)
Menurut penelitian, ternyata orang-orang yang berwajah cantik dan tampan merasa lebih bahagia daripada orang pada umumnya. Mungkin ini karena kehidupan ini lebih ramah pada yang cantik atau tampan. Atau mungkin kecantikan adalah refleksi dari kesehatan dan orang yang lebih sehat biasanya lebih bahagia. Tapi menurut para ilmuwan, tidak perlu harus secantik Britney Spears untuk menjadi bahagia. Asalkan kita merasa diri berpenampilan menarik, kita bisa bahagia. Sayangnya menurut penelitian banyak sekali orang yang merasa minder, dan menilai dirinya lebih buruk daripada penilaian orang lain terhadapnya. Jadi untuk bahagia, sebaiknya jangan berpikir kita ini buruk rupa dan jangan membandingkan diri dengan para model!

6. Make friends and value them........ (skor: 2 1/2)
Berdasarkan riset terhadap kaum miskin di Calcutta dan para mahasiswa kelas menengah, para ilmuwan menyimpulkan bahwa hubungan sosial punya andil besar dalam kebahagiaan seseorang. Semakin seseorang punya dukungan sosial dari teman dan keluarga, semakin ia bahagia. Oleh karena itu gelandangan di India lebih bahagia karena punya kelompok lebih besar, dibanding dengan gelandangan di Amerika.

7. Get married.... (skor: 3)
Hasil riset sebuah tim peneliti dari Amerika terhadap laporan-laporan dari berbagai negara menunjukkan bahwa orang-orang yang menikah cenderung lebih bahagia dibandingkan dengan yang melajang. Apakah itu berarti perkawinan membawa kebahagiaan, ataukah umumnya orang-orang bahagialah yang menikah? Memang bisa dua-duanya, akan tetapi umumnya orang bisa menjadi lebih bahagia dengan menikah. Perkawinan memberikan efek positif yang lebih besar dibanding dengan hidup bersama tanpa menikah. Mungkin ini disebabkan karena perkawinan memberikan ketenangan dan keamanan yang lebih besar dibandingkan dengan hidup bersama tanpa ikatan.

8. Find God (or a believe system).... (skor: 1 1/2)
Berbagai penelitian ilmiah yang dikumpulkan sebuah tim dari North Carolina menunjukkan bahwa orang-orang yang mempunyai agama atau kepercayaan tertentu umumnya merasa lebih bahagia, atau setidaknya punya lebih banyak emosi positif, dibandingkan dengan yang tidak. Menurut mereka mempunyai kepercayaan menyebabkan orang merasa punya tujuan dalam hidup. Efek paling besar terlihat dalam masa-masa sulit. Mereka yang percaya sesuatu biasanya bisa lebih mudah menerima atau mengatasi kesulitan tersebut.

Sebuah kepercayaan juga sangat membantu mengatasi ketakutan terhadap kematian. Selain itu, agama dan kepercayaan biasanya juga membawa dukungan sosial dari kelompok. Tetapi yang lebih penting, kelompok ini juga memberikan kesempatan kepada individu untuk 'memberi' yang ternyata memberikan kepuasan yang jauh lebih besar daripada sekedar menerima.

9. Do someone a good turn... (skor: 1 1/2)
Beberapa studi menemukan bahwa ada korelasi antara tingkah laku altruistik dan kebahagiaan. Semakin banyak seseorang berderma, semakin bahagia dia. Belum jelas juga, apakah itu menunjukkan bahwa berderma dan berbaik hati membuat orang bahagia, ataukah orang bahagia lebih banyak berderma. Mungkin keduanya betul. Semakin bahagia seseorang semakin gampang memberi. Tetapi ilmuwan menyatakan bahwa pada akhirnya efek kumulatif dari tingkah laku yang dermawan membuat seseorang lebih bahagia.

10. Grow old gracefully...... (skor: 1/2)
Ternyata menjadi tua itu tidak seburuk yang dikira orang. Menurut hasil beberapa riset, orang-orang tua punya emosi positif sebanyak orang muda, tetapi mereka punya lebih sedikit emosi negatif dibanding orang muda. Mengapa orang-orang tua lebih bahagia daripada orang muda? Kemungkinan semakin tua kita semakin belajar menendalikan emosi dan memfokuskan diri pada hal-hal yang membuat bahagia. Atau orang tua sudah belajar untuk menjadi lebih realistis dalam bercita-cita.

Jadi begitulah, rahasia kebahagiaan menurut para ilmuwan seperti yang diungkap majalah The New Scientist. Kalau diurutkan menurut skor, maka orang bisa menjadi bahagia kalau: 1. punya 'gen bahagia', 2. menikah, 3. punya banyak teman, 4. tidak bercita-cita terlalu tinggi, 5. suka berbuat baik, 6. beragama atau berkepercayaan, 7. berpenampilan menarik, 8. berduit, 9. tua dan akhirnya 10. cerdas. Faktor-faktor ini bisa menjelaskan mengapa negara-negara yang penduduknya terbahagia di dunia (Nigeria, Meksiko dan Venezuela) bukanlah negara-negara maju dan makmur.

Yang agak kontroversial menurutku adalah betapa pentingnya faktor genetis menurut para ilmuwan, karena ini berarti mereka yang nenek kakeknya memang susah tertawa kemungkinan besar akan susah tertawa pula. Entahlah. Tapi jelas ini bukan patokan mati, lingkungan dan kultur jelas mempengaruhi faktor-faktor di atas. Aku jadi ingin tahu, apakah para lajang dari negara-negara 'barat' yang tidak mengalami tekanan sosial karena kelajangannya lebih bahagia dibanding para lajang di negara-negara 'timur'? Mungkin, tapi bisa jadi tidak demikian, karena umumnya kultur timur lebih 'hangat' dalam hubungan sosial dibanding kultur barat, maka yang di timur mungkin tetap lebih bahagia. Sekali lagi, entahlah.

Karena toh penelitian dan studi tidak mungkin memperhitungkan seluruh faktor-faktor yang kompleks dan saling berkaitan. Maka juga tidak selalu hasil studi sama dari waktu ke waktu. BBC News bagian Health misalnya, pada tanggal 15 Februari 2002 mengutip hasil studi di Stockholm yang menyimpulkan bahwa pria lajang rata-rata berumur lebih pendek daripada pria menikah. Hasil yang sama dari penelitian Universitas Warwick dikutip pada tanggal 12 Agustus 2002. Ini diperkirakan disebabkan karena pria menikah mendapatkan lebih banyak 'emotional security' dibanding dengan pria lajang.

Lalu pada tanggal 3 October 2002 sekali lagi sebuah studi di Australia menyatakan bahwa perkawinan membuat pria dan wanita bahagia. Ini bertentangan dengan studi yang dilakukan pada tahun 1970 yang menyatakan bahwa wanita lebih bahagia ketika lajang daripada ketika menikah, karena tingkat stres yang bertambah ketika berkeluarga. Tetapi pada edisi 22 Desember 2003, BBC News menampilkan hasil studi dari Queen Mary University yang menyimpulkan bahwa pria menikah lebih punya resiko mengalami problem kesehatan dibandingkan dengan pria lajang. Sebaliknya wanita lajang lebih punya resiko mengalami gangguan kesehatan mental daripada wanita menikah!

Ternyata tidak mudah mengungkap sisi ilmiah dari rasa 'bahagia'. Maka studi-studi ilmiah ini pada akhirnya buatku hanya jadi tambahan pengetahuan saja. Sementara itu kutanyakan pada diriku sendiri, bahagiakah aku? Lalu kuingat-ingat pengalaman berakhir minggu bersama si dia, bertualang off-road mengarungi gurun pasir, dilanjutkan dengan naik unta dan menonton tari perut. Selanjutnya di rumah disambut hangat oleh Bapak-Ibu dan sepupu-sepupu. Besoknya di kantor aku bekerja dengan gembira sehabis mendapatkan slip gaji dan melihat ada kenaikan angka di situ. Malamnya makan malam dengan teman-teman dengan penuh tawa. Minggu berikutnya berPaskah bersama adikku. Yes... I'm happy :))

Jakarta, 12 April 2004


Posted at 07:17 pm by koeniel

Name juang y fajar.
February 7, 2009   01:17 AM PST
 
Q bru buka blok ini,n trnyata sngat mmbantu ksepian Q,n Q bs lbh tr moti fasi lg ntuk bahgia wlo se orang jomblo.sukses trus...
Name juang y fajar.
February 7, 2009   01:17 AM PST
 
Q bru buka blok ini,n trnyata sngat mmbantu ksepian Q,n Q bs lbh tr moti fasi lg ntuk bahgia wlo se orang jomblo.sukses trus...
Name juang y fajar.
February 7, 2009   01:16 AM PST
 
Q bru buka blok ini,n trnyata sngat mmbantu ksepian Q,n Q bs lbh tr moti fasi lg ntuk bahgia wlo se orang jomblo.sukses trus...
zee
June 23, 2006   10:56 AM PDT
 
Nice writing! Aku juga pernah baca artikel yang mirip, tapi di majalah TIME. Kalo gak salah tahun 2004 juga deh...
Niken
October 24, 2005   09:44 AM PDT
 
salam kenal dari nikeeennn

Mengatasi takut mati? niken pengen mati malah, mati secara badaniah, how do i kill kekurangan didiri gw dan jadi lebih baik lagi, lebih dewasa lagi.
Apa enakan hidup, tapi mati didalam??
apa artinya hidup???
sorry ya ngerecokin
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • 2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON