catatan setelah pengalaman pertama menyelam
Suka cita kukirim dari dasar laut disertai salam dari berjuta ikan dan koral dan seluruh flora dan fauna laut yang indah yang kaya akan permainan warna. Kutulis di sini serangan rasa yang dahsyat buat hatiku, yang tersisa dari pengalaman selama beberapa jam menelusuri dasar laut dangkal di sekeliling Pulau Kotok, yang adalah bagian dari gugusan kepulauan seribu di lepas pantai utara Jakarta.
Begitu kepala ini tercelup ke dalam laut di bawah dermaga (dan setelah kepanikan pertama teratasi), yang ada adalah kekaguman. Begitu kaki menjejak ke pasir putih bersih dikelilingi berjuta warna-warni ikan dan karang, kepala jadi tunduk hormat pada kebesaran alam. Bahwa aku akhirnya bisa berenang-renang dikelilingi kawan-kawan si Nemo adalah mukjijat yang sungguh kusyukuri. Tontonan segar dari taman bawah laut adalah hadiah alam yang tak tergambarkan dengan kata-kata.
Bukan hal yang gampang untuk akhirnya bisa bermain-main bersama ikan yang tadinya hanya bisa kunikmati dari televisi atau dari balik dinding kaca akuarium Sea World. Mengatasi kepanikan dan ketakutan, mengendalikan diri dan berkonsentrasi adalah empat hal utama yang harus kulalui sebelum bisa menjelajah lebih jauh keindahan semesta itu. Turun perlahan dari permukaan ke dalam laut sembari membuang udara dari dalam jaket pelampung adalah ketakutan pertama yang harus kuatasi. Otak ini berkali-kali harus mengingat bahwa situasi cukup aman dan terkendali - yang dibutuhkan hanyalah bernafas normal melalui mulut dengan bantuan alat nafas yang mengalirkan udara dari dalam tabung.
Lalu di dasar lagi-lagi kendali otak harus dilakukan agar panik tidak melanda, sehingga bisa berenang tenang, tanpa menukik menubruk karang-koral nan indah tapi juga berbahaya karena bisa kejam merobek kulit - atau melesat ke permukaan dengan terlalu cepat, sebuah proses yang bisa merobek paru-paru. Bukan hal yang mudah dilakukan, apalagi saat menyelam bersama sesama pemula, yang masih saling menendang dan menubruk karena masing-masing belum ahli menguasai teknik mengambang dengan tenang. Ketakutan hampir menguasaiku ketika alat nafas tak sengaja tertendang oleh teman yang panik sehingga lepas dari mulut. Atau ketika kaki ini tiba-tiba mengalami kram, sakit luar biasa dan melumpuhkan sehingga pelan tapi pasti aku terseret arus menuju ke kedalaman laut yang biru tampak tak tertembus. Untung segala jenis kecelakaan yang mungkin terjadi telah disimulasi baik di dalam latihan di kolam maupun di dasar laut di bawah dermaga. Maka lagi-lagi otak sadar akhirnya bisa tetap mengendalikan tubuhku, bukannya panik yang dikusiri oleh bawah sadar.
Tapi ketika akhirnya masa-masa awal penuh takut dan panik telah terlewati keindahan laut menguasaiku. Rasanya ingin berlama-lama di bawah sana, mengagumi keragaman yang ada. Kehidupan terlahir dari sini - dari laut. Walaupun saat itu ketika umur bumi masih lebih dari 3 milyar tahun laut yang ada bukanlah yang indah seperti ini. Bubur sup yang adalah laut ketika itu panas dan kental akan bahan-bahan resep kehidupan. Yang lalu disetrum oleh cahaya dari langit dan membentuk kehidupan yang pertama - makhluk-makhluk bersel satu tak berinti. Yang lalu hidup berjuta tahun, sebagian punah sebagian berkembang menjadi makhluk bersel satu yang berinti, yang lalu 1 milyar tahun yang lalu berevolusi menjadi organisme bersel banyak. Lagi-lagi berjenis-jenis mati sebagai konsekuensi dari seleksi alam dan sisanya berkembang selama beratus-ratus juta tahun menjadi makhluk-makhluk bertulang belakang, yang lalu pelan merambah darat. Sebagian mati dan sebagian lagi berkembang, ada yang kembali ke laut sebagai reptil penguasa laut, atau mamalia raksasa yang cucu-cucunya kita kenal sebagai lumba-lumba dan ikan paus. Sisanya menguasai daratan.
Reptilia merajalela menguasai bumi terutama selama masa Cretaceous yang kira-kira 140an juta tahun yang lalu. Lalu seleksi alam menumpaskan makhluk-makhluk raksasa ini dan anak cucunya tak mampu bertahan sebagai penguasa sehingga mamalia merebut tahta. Sementara itu mamalia terus berevolusi - sebagian punah, sebagian akhirnya menurunkan monyet-monyet berbadan tegak yang adalah 'nenek moyang' kita. Sementara itu ikan-ikan yang hidup di laut sejak manusia belum timbul terus berevolusi dan menurunkan cucu dengan berjenis-jenis warna dan rupa seperti yang berenang-renang ria di sekitarku ini. Sekali lagi kepalaku tunduk hormat kepada Kekuatan yang meletupkan the Big Bang dan melahirkan alam semesta. Yang merancang hukum-hukum fisika dengan detil-detilnya sehingga galaksi-galaksi terbentuk dan tata surya terlahir - termasuk tempat kita hidup. Sehingga bumi bisa melahirkan kehidupan yang bisa berevolusi dan akhirnya membentuk manusia.
Tercenung di dasar lautan yang warna-warni itu aku merenungkan begitu besarnya alam semesta. Hanya dari sebuah kebetulanlah manusia terbentuk dari cabang evolusi yang kebetulan bertahan terhadap alam. Maka manusia ini kecillah adanya. Tapi ini fakta yang sering tidak disadari dan dilupakan oleh kita manusia yang kini bertahta di puncak kekuasaan di dunia di atas makhluk-makhluk lain. Sehingga bak diktator tak punya lawan dengan seenaknya kita rusak dan hancurkan kekayaan alam bumi, yang bukan milik dan hak kita. Atas nama kebutuhan perut (kaum miskin) dan pertumbuhan ekonomi (pemerintah dan pengusaha) kita kuras kekayaan ini dan kita kotori bumi dengan sampah-sampah kita. Maka lahan terumbu karang di dasar lautan Indonesia juga menderita. Dari 50 ribuan kilometer persegi lahan terumbu karang kita yang adalah terbesar di dunia, 80%nya terancam rusak. Warna-warni laut ini perlahan sirna oleh keserakahan kita.
Betapa sedihnya. Betapa sayangnya. Padahal kalau kita buka lembar peta lokasi penyelaman di seluruh dunia, bendera-bendera tanda lokasi penyelaman begitu banyak berderet-deret dan bertebaran di negara kita. Kita juga punya lokasi penyelaman top kelas dunia, antara lain di Bunaken. Tapi fakta ini tidak menghalangi laju perusakan terumbu, entah karena kerusakan langsung (menangkap ikan dengan bom atau sianida, menambang terumbu) ataupun tak langsung karena berkurangnya habitat (erosi yang menyebabkan keruhnya air sungai, polusi, penambangan pasir dan karang). Turis dan bahkan para penyelam pun bisa menyumbang kerusakan terumbu. Seperti para pendaki gunung yang sering meninggalkan sampah mengotori gunung. Betapa sedihnya.
Yang kita butuhkan adalah pecinta alam, manusia-manusia yang mengerti akan tanggung jawabnya sebagai makhluk terkuat di dunia ini. Manusia yang mengerti bahwa meskipun berada di puncak, kita juga tergantung pada makhluk lain. Kepunahan mereka adalah bel kematian bagi kita juga. Jiwa yang mencintai alam ini juga seharusnya bukan hanya ada di hati mereka yang senang bertualang di alam bebas, tapi di setiap orang, termasuk mereka yang duduk di pemerintahan. Sehingga ada kebijakan yang tepat dan menyentuh dasar. Karena kegiatan kami membersihkan dasar laut dari sampah, menanam rumpon, mendidik nelayan akan pentingnya terumbu dan sebagainya hanya akan berhasil bila didukung semua orang.
Ketukan di punggung membangunkan lamunanku maka berhentilah aku melamun meneruskan perjalanan menelusuri taman terumbu warna-warni, sambil perlahan naik ke permukaan, meninggalkan dunia bawah air yang indah dan penuh warna. See you again soon Nemo!
Pulau Kotok, 9 Mei 2004