Sunday, May 09, 2004
Dari Dasar Laut

catatan setelah pengalaman pertama menyelam

Suka cita kukirim dari dasar laut disertai salam dari berjuta ikan dan koral dan seluruh flora dan fauna laut yang indah yang kaya akan permainan warna. Kutulis di sini serangan rasa yang dahsyat buat hatiku, yang tersisa dari pengalaman selama beberapa jam menelusuri dasar laut dangkal di sekeliling Pulau Kotok, yang adalah bagian dari gugusan kepulauan seribu di lepas pantai utara Jakarta.

Begitu kepala ini tercelup ke dalam laut di bawah dermaga (dan setelah kepanikan pertama teratasi), yang ada adalah kekaguman. Begitu kaki menjejak ke pasir putih bersih dikelilingi berjuta warna-warni ikan dan karang, kepala jadi tunduk hormat pada kebesaran alam. Bahwa aku akhirnya bisa berenang-renang dikelilingi kawan-kawan si Nemo adalah mukjijat yang sungguh kusyukuri. Tontonan segar dari taman bawah laut adalah hadiah alam yang tak tergambarkan dengan kata-kata.

Bukan hal yang gampang untuk akhirnya bisa bermain-main bersama ikan yang tadinya hanya bisa kunikmati dari televisi atau dari balik dinding kaca akuarium Sea World. Mengatasi kepanikan dan ketakutan, mengendalikan diri dan berkonsentrasi adalah empat hal utama yang harus kulalui sebelum bisa menjelajah lebih jauh keindahan semesta itu. Turun perlahan dari permukaan ke dalam laut sembari membuang udara dari dalam jaket pelampung adalah ketakutan pertama yang harus kuatasi. Otak ini berkali-kali harus mengingat bahwa situasi cukup aman dan terkendali - yang dibutuhkan hanyalah bernafas normal melalui mulut dengan bantuan alat nafas yang mengalirkan udara dari dalam tabung.

Lalu di dasar lagi-lagi kendali otak harus dilakukan agar panik tidak melanda, sehingga bisa berenang tenang, tanpa menukik menubruk karang-koral nan indah tapi juga berbahaya karena bisa kejam merobek kulit - atau melesat ke permukaan dengan terlalu cepat, sebuah proses yang bisa merobek paru-paru. Bukan hal yang mudah dilakukan, apalagi saat menyelam bersama sesama pemula, yang masih saling menendang dan menubruk karena masing-masing belum ahli menguasai teknik mengambang dengan tenang. Ketakutan hampir menguasaiku ketika alat nafas tak sengaja tertendang oleh teman yang panik sehingga lepas dari mulut. Atau ketika kaki ini tiba-tiba mengalami kram, sakit luar biasa dan melumpuhkan sehingga pelan tapi pasti aku terseret arus menuju ke kedalaman laut yang biru tampak tak tertembus. Untung segala jenis kecelakaan yang mungkin terjadi telah disimulasi baik di dalam latihan di kolam maupun di dasar laut di bawah dermaga. Maka lagi-lagi otak sadar akhirnya bisa tetap mengendalikan tubuhku, bukannya panik yang dikusiri oleh bawah sadar.

Tapi ketika akhirnya masa-masa awal penuh takut dan panik telah terlewati keindahan laut menguasaiku. Rasanya ingin berlama-lama di bawah sana, mengagumi keragaman yang ada. Kehidupan terlahir dari sini - dari laut. Walaupun saat itu ketika umur bumi masih lebih dari 3 milyar tahun laut yang ada bukanlah yang indah seperti ini. Bubur sup yang adalah laut ketika itu panas dan kental akan bahan-bahan resep kehidupan. Yang lalu disetrum oleh cahaya dari langit dan membentuk kehidupan yang pertama - makhluk-makhluk bersel satu tak berinti. Yang lalu hidup berjuta tahun, sebagian punah sebagian berkembang menjadi makhluk bersel satu yang berinti, yang lalu 1 milyar tahun yang lalu berevolusi menjadi organisme bersel banyak. Lagi-lagi berjenis-jenis mati sebagai konsekuensi dari seleksi alam dan sisanya berkembang selama beratus-ratus juta tahun menjadi makhluk-makhluk bertulang belakang, yang lalu pelan merambah darat. Sebagian mati dan sebagian lagi berkembang, ada yang kembali ke laut sebagai reptil penguasa laut, atau mamalia raksasa yang cucu-cucunya kita kenal sebagai lumba-lumba dan ikan paus. Sisanya menguasai daratan.

Reptilia merajalela menguasai bumi terutama selama masa Cretaceous yang kira-kira 140an juta tahun yang lalu. Lalu seleksi alam menumpaskan makhluk-makhluk raksasa ini dan anak cucunya tak mampu bertahan sebagai penguasa sehingga mamalia merebut tahta. Sementara itu mamalia terus berevolusi - sebagian punah, sebagian akhirnya menurunkan monyet-monyet berbadan tegak yang adalah 'nenek moyang' kita. Sementara itu ikan-ikan yang hidup di laut sejak manusia belum timbul terus berevolusi dan menurunkan cucu dengan berjenis-jenis warna dan rupa seperti yang berenang-renang ria di sekitarku ini. Sekali lagi kepalaku tunduk hormat kepada Kekuatan yang meletupkan the Big Bang dan melahirkan alam semesta. Yang merancang hukum-hukum fisika dengan detil-detilnya sehingga galaksi-galaksi terbentuk dan tata surya terlahir - termasuk tempat kita hidup. Sehingga bumi bisa melahirkan kehidupan yang bisa berevolusi dan akhirnya membentuk manusia.

Tercenung di dasar lautan yang warna-warni itu aku merenungkan begitu besarnya alam semesta. Hanya dari sebuah kebetulanlah manusia terbentuk dari cabang evolusi yang kebetulan bertahan terhadap alam. Maka manusia ini kecillah adanya. Tapi ini fakta yang sering tidak disadari dan dilupakan oleh kita manusia yang kini bertahta di puncak kekuasaan di dunia di atas makhluk-makhluk lain. Sehingga bak diktator tak punya lawan dengan seenaknya kita rusak dan hancurkan kekayaan alam bumi, yang bukan milik dan hak kita. Atas nama kebutuhan perut (kaum miskin) dan pertumbuhan ekonomi (pemerintah dan pengusaha) kita kuras kekayaan ini dan kita kotori bumi dengan sampah-sampah kita. Maka lahan terumbu karang di dasar lautan Indonesia juga menderita. Dari 50 ribuan kilometer persegi lahan terumbu karang kita yang adalah terbesar di dunia, 80%nya terancam rusak. Warna-warni laut ini perlahan sirna oleh keserakahan kita.

Betapa sedihnya. Betapa sayangnya. Padahal kalau kita buka lembar peta lokasi penyelaman di seluruh dunia, bendera-bendera tanda lokasi penyelaman begitu banyak berderet-deret dan bertebaran di negara kita. Kita juga punya lokasi penyelaman top kelas dunia, antara lain di Bunaken. Tapi fakta ini tidak menghalangi laju perusakan terumbu, entah karena kerusakan langsung (menangkap ikan dengan bom atau sianida, menambang terumbu) ataupun tak langsung karena berkurangnya habitat (erosi yang menyebabkan keruhnya air sungai, polusi, penambangan pasir dan karang). Turis dan bahkan para penyelam pun bisa menyumbang kerusakan terumbu. Seperti para pendaki gunung yang sering meninggalkan sampah mengotori gunung. Betapa sedihnya.

Yang kita butuhkan adalah pecinta alam, manusia-manusia yang mengerti akan tanggung jawabnya sebagai makhluk terkuat di dunia ini. Manusia yang mengerti bahwa meskipun berada di puncak, kita juga tergantung pada makhluk lain. Kepunahan mereka adalah bel kematian bagi kita juga. Jiwa yang mencintai alam ini juga seharusnya bukan hanya ada di hati mereka yang senang bertualang di alam bebas, tapi di setiap orang, termasuk mereka yang duduk di pemerintahan. Sehingga ada kebijakan yang tepat dan menyentuh dasar. Karena kegiatan kami membersihkan dasar laut dari sampah, menanam rumpon, mendidik nelayan akan pentingnya terumbu dan sebagainya hanya akan berhasil bila didukung semua orang.

Ketukan di punggung membangunkan lamunanku maka berhentilah aku melamun meneruskan perjalanan menelusuri taman terumbu warna-warni, sambil perlahan naik ke permukaan, meninggalkan dunia bawah air yang indah dan penuh warna. See you again soon Nemo!

Pulau Kotok, 9 Mei 2004


Posted at 05:24 pm by koeniel

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • 2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON