Sunday, August 15, 2004
Perempuan dan Lelaki

"Mbak, ini dunia yang terbalik. Harusnya mbak yang berdiri di sini memasak untuk saya dan saya yang berdiri di situ, bekerja." begitu katanya. Dan kemarahanku langsung naik ke ubun-ubun. "Kalau memang belum bisa hidup di dunia modern, nggak usah aja mas, kembali aja ke jaman batu sana!" balasku sengit.

Waktu kejadian di atas terjadi, aku sedang mengantri di 'galley' alias ruang makan di barge Charley Graves, sebuah kapal besar yang memiliki menara bor untuk menggali minyak dan gas di lautan lepas. Lelaki yang mengatakan kalimat di atas adalah seorang petugas katering, dan fungsiku di instalasi ini adalah sebagai wellsite geologist alias geologiwan sumur bor. Di mata si petugas katering, aku si perempuan seharusnya bekerja di dapur memasak, dan berada di bawah, sedangkan dia yang seorang laki-laki harusnya bekerja menggantikanku di lantai menara bor dan di kantor, dan berada di atas dalam garis kekuasaan. Huh. Atau mungkin dia berpikir pekerjaan di dekat menara bor yang 'keras' bukan pekerjaan yang tepat untukku, seorang perempuan, dan lebih tepat untuknya yang adalah laki-laki. Huh lagi.

Memang dengan bekerja di lingkungan seperti ini, yang sangat didominasi laki-laki, mau tidak mau aku harus banyak bertabrakan dengan masalah jender. Walaupun sudah mulai banyak ahli geologi perempuan maupun insinyur perempuan yang bekerja di pemboran minyak, tetap saja makhluk perempuan masih barang langka di instalasi pemboran seperti ini, apalagi di lepas pantai. Buktinya saat ini aku adalah satu-satunya perempuan di kapal ini di antara sekitar 100an lelaki, juga di platform produksi minyak dan gas di sebelah. Maka tidak sedikit candaan dan godaan yang menjurus ke arah pelecehan seksual yang harus kuterima sehari-hari. Belum lagi soal rasa tidak percaya, bahwa seorang perempuan mampu menanggung beban berat bekerja di lingkungan 'keras' seperti lingkungan pemboran lepas pantai.

Komentar seperti, "Wah perempuan kok kerja seperti ini sih Mbak?" sering terdengar. Kadang ada nada kagum terselip, "Wah, hebat ya, tough banget berani kerja seperti ini." Kadang nadanya penuh kasihan, "Wah, pantesan masih lajang ya Mbak, kalau kerjanya begini?" Grrrrrhhhh........... Tapi biasanya komentar-komentar itu kutelan saja dan hanya kubalas dengan senyum.

Yang sulit adalah menimbulkan rasa percaya dari mereka-mereka yang akan bekerja untuk atau denganku. Biasanya untuk yang begini aku tidak banyak omong, langsung saja bekerja dan membuktikan bahwa aku mampu dan layak dipercaya. Biasanya setelah melihat hasil kerjaku mereka percaya.

Sewaktu menjalani pelatihan Helicopter Underwater Escape (alias menyelamatkan diri dari helikopter tenggelam) dan Sea Survival, rekan-rekan segrup sempat memandangku dengan kasihan dan prihatin. Pada hari pertama Bapak-Bapak berbadan besar-besar ini berusaha meyakinkan bahwa aku akan bisa melewati pelatihan dengan baik dan bahwa mereka akan membantu aku. Aku juga cuma diam saja tak berkomentar. Sewaktu akhirnya aku selalu berhasil lolos dari helikopter yang terbalik dan tenggelam, melepaskan diri dari seat belt di bawah air dan dengan mudah mendobrak jendela dan berenang keluar lebih dulu dari mereka, baru mereka percaya dan bahkan memilihku jadi ketua regu. Tapi ini bukan hal yang gampang. Sepertinya bagi seorang perempuan prestasi harus dua kali lebih baik barulah dipercaya.

Sebetulnya dari hasil pengamatanku selama ini, sebagai seorang perempuan yang bekerja di pemboran minyak, mendapatkan kepercayaan dan respek dari rekan kerja asing lebih mudah dari pada dari rekan kerja atau bawahan bangsa sendiri. Sepertinya buat mereka jenis kelamin tidak lagi menjadi sesuatu yang mengganjal. Ini bisa jadi akibat dari masalah budaya, budaya barat sudah lebih menganggap perempuan sebagai rekan setara, sementara di budaya kita dalam banyak hal perempuan masih dianggap belum setara.

Pernyataan ini pasti banyak mengundang protes tapi sudah sering kulihat bahwa di sini walaupun seorang istri juga bekerja dan menyumbangkan uang untuk rumah tangga, sehabis bekerja ia masih dibebani dengan berbagai pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak sementara sang suami walaupun membantu mengurus anak atau sedikit pekerjaan rumah, tetapi tidak bekerja sebanyak sang istri di rumah. Sementara di keluarga-keluarga eropa, suami dan istri benar-benar setara dan berbagi tugas - mungkin hari ini si suami memasak sementara si istri mencuci pakaian dan besok sebaliknya. Istripun bisa dengan mudah pergi tugas keluar kota dan menyerahkan pengurusan anak kepada suami, yang bisa melakukan tugas itu tanpa tergantung pada pengasuh anak maupun mertua.

Tetapi untungnya keadaan tidaklah terlalu buruk, karena di sini di antara rekan kerja sebangsa sendiri, kepercayaan dan respek juga lebih mudah didapat dari rekan yang berpendidikan tinggi, dibanding dari yang berpendidikan lebih rendah. Sehingga kelihatannya ada korelasi antara pendidikan dengan pandangan bahwa perempuan tidak hanya mampu bekerja di dapur. Maka nantinya dengan semakin banyak orang berpendidikan tinggi yang bersinggungan dengan dunia modern, moga-moga kesulitan yang dihadapi oleh para perempuan yang mencoba merambah profesi yang tadinya lebih banyak dijalani oleh kaum laki-laki juga semakin berkurang.

Semoga.

Laut Natuna, 15 Agustus 2004


Posted at 07:40 pm by koeniel

Dellannisa
August 15, 2012   12:54 AM PDT
 
Salut banget, mbak! Saya, walaupun masih duduk di kelas XII SMA tertarik sama dunia geologi. Tapi saya masih terombang-ambing sama geologist yang notabene kebanyakan pria yang melakukannya. Setelah baca cerita mbak, ternyata asalkan talk less do more masalah underestimate gender bisa diatasi. Seenggaknya bermanfaat buat diri sendiri tanpa mengurangi produktifitas mbak. Semoga pilihan t. geologi merupakan pilihan yang tepat bagi saya. Doakan saya bisa jd geologist yah mbak! God bless you all:)
Dhini
May 2, 2007   09:54 AM PDT
 
Menurut saya geologist itu justru profesi yang ....cewek....banget malahan. Malah saya nggak kebayang ada profesi lain yang se-feminin jadi geologist (maaf lho bukan berarti cowoq nggak cocok jadi geo). Mungkin si Mas itu nggak tau apa yang dikerjakan seorang geologist trus semua yang kerja di rig dianggap pekerjaan laki-laki. Saya sudah bekerja sebagai geologist selama 11 tahun mulai dari mudlogger, EWL, LWD, petrophysicist, sampai sekarang jadi regional geologist, saya rasakan kerjaan ini cucok banget bagi saya yang wanita, sama cucok-nya dengan arsitek, desain interior ataupun fashion designer, saat ini saya rasa wanita yang bekerja sebagai geologist terutama di sektor migas jumlahnya sebanding malah mungkin lebih banyak dari pria, saya sendiri waktu kuliah Master dikelas jumlah female studentnya 13 sementara male-nya cuma 4, dulupun saya sebenarnya lebih berminat ke teknik sipil tapi atas saran orangtua saya mengambil geologi, karena menurut mereka pekerjaan geologist itu lebih lemah lembut daripada nantinya bekerja di konstruksi, itupun setelah melihat pengalaman sepupu dan tante saya yang juga geologist. Memang benar, setelah masuk geologi saya merasa benar-benar jadi cewek, apalagi dibandingkan dengan adik perempuan saya yang jadi penerbang.
Suatu waktu di Riau pernah saya ikut pengeboran yang hampir seluruh operating personel-nya (terutama yang berkaitan dengan subsurface) cewek semua, kecuali tool pusher, rig supt dan restabout. Malahan selama pengalaman saya (didarat maupun dilaut) yang namanya chef, juru masak or whatever itu pasti cowok, jadi saya rasa nggak beralasan deh kalau orang-orang beranggapan kalau yang kerja di rig itu harus cowok
Cuki
February 9, 2007   06:36 PM PST
 
Bagaimana pun mbak adalah perempuan...
Biar waktu yang akan menjawab...
juz
September 26, 2005   02:22 PM PDT
 
Met kenal.
Salut deh mbak!! Jempol 100x.
Pekerjaannya sendiri sudah tantangan berat, belum lagi lingkungan yg mayoritas co-dgn masalah umum. Gender.
Somebody said, co boleh punya kekuatan fisik lebih drpd ce, tapi mentally, women are STRONGER!

Eniway, whatever it is, enjoy yourself, be thankful for all u achieved :)
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • 2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON