Episode 1
Dengan ditemani secangkir kopi susu panas, kusebrangi selat itu dengan
kapal feri, menuju sebuah pulau kecil di ujung selatan Inggris. Dingin,
dingin saja yang kurasa, dan kabut saja yang kulihat.
Episode 2
Sepanjang jalan, sambil menggeletar kedinginan di dalam bis, dari balik
kaca kupandangi rumah-rumah mungil yang melintas berlarian di balik kabut.
Rumah-rumah pedesaan yang bak lukisan. Bunga-bunga daffodil yang kuning
cemerlang tertunduk mengangguk-angguk. Kedinginan juga mungkin.
Episode 3
Rumah tua milik keluarga aristokrat tua. Karena alasan ekonomi ia harus
menjadi penginapan dan menerima kami, orang-orang asing, di lantai kayunya,
di atas karpet mewahnya, kamar-kamar besarnya, di depan perapian-perapian
tuanya. Tangga kayu berkeriut-keriut di bawah sepatu hikingku, terbeban
berat badanku ditambah sebuah ransel raksasa, sebuah traveling bag dan
sebuah tas kamera. Lukisan-lukisan tua, cermin-cermin dan karpet tebal
menawarkan suasana dua abad yang lalu. Dan kubiarkan batinku tenggelam ke
dalam bayang-bayang masa lalu, memandang tokoh-tokoh buku-bukuku
berloncatan keluar dari halaman-halamannya.
Sebagai satu-satunya perempuan di grup ini, kawan, aku selalu dimanjakan.
Kamar terbaik diberikan padaku. Jendela kaca besar memandang ke arah
laut, dengan lapangan berumput di bawah yang melandai ke arah ujung
tebing. Dan tebing. Dan laut. Ombak berdebur-debur. Dari atas balkon
berlantai kayu yang diterpa angin dingin, aku menggeletar kedinginan
memandangi laut. Nun jauh di horison sana adalah ujung tanah Spanyol.
Tanah tua juga, dengan wajah-wajah latin bertemperamen tinggi. Dan di
baliknya lagi... Afrika! Anganku melayang jauh. Ke tanah panas bertabur
mentari. Kelak, kelak, kawan, akan kuinjakkan kakiku juga ke sana! Dan akan
kurasakan keliarannya! Kaki-kakiku yang selalu gelisah ingin mengarungi
dunia ini bergetar gembira.
Bulan purnama gemerlap keperakan mengintip di balik awan. Sinarnya
menyentuh lembut permukaan laut, menebar sejuta berlian di atasnya dan
menyeka lantai kamarku. Sambil bersembunyi di balik selimut tebal,
kudengarkan suara deburan ombak yang mengingatkanku pada tebingku di
Wonosari sana. Dan dunia mimpi pun datang merangkum.
Episode 4
Pagi yang kejam. Semburan air bertubi-tubi mengucur dari langit, awan gelap
bergulung-gulung, angin kencang menerpa-nerpa kaca jendela kamar makan
mewah ini, dan hatiku mengkeriut. Di sini, di dalam kehangatan ruang dengan
pediangan api, dingin tak terasa. Tapi di luar sana?
Air sedingin es mengucur memukul-mukul payungku, angin menyambar-nyambar.
Di balik kaus tebal, sweater tebal, dan jaket tebal, di balik stocking,
celana ketat, celana hiking, kaus kaki dan sepatu, dan di balik kaus tangan
tebal dan syal tebal, tangan, kaki dan tubuhku bergetar hebat. Dingin,
dingin. Kuusahakan berkonsentrasi pada kertas data seismik berbungkus
plastik di tangan kiriku, sambil mendengarkan tutor yang sibuk
menunjuk-nunjuk pada tebing di muka kami. Berusaha menghujamkan pengetahuan
di kepala kami. Gagal. Yang terdengar di telingaku adalah debur kemarahan
ombak yang menerpa-nerpa kaki tebing di bawahku.
Episode 5
Akhirnya alam bermurah hati juga. Setelah sepiring ikan dan kentang goreng
panas serta segelas bir dari sebuah pub pedesaan bertengger dengan nyaman
hangat di perutku, mentari menampakkan senyumnya. Dan keriangannya menular.
Maka akupun bergegas menuju tebingku.
Tebing kapur ini kawan, hampir seperti tebing Wonosari kita, tempat kita
sering mancing semalaman. Mereka sama-sama kapur, gamping. Hanya tebing
ini sangat-sangat tua. Tebing kita 'baru' berumur 20 juta tahun.
Tebing di depanku ini, kawan, dibentuk kira-kira 140 juta tahun yang
lalu. Tebing kita, dibentuk di lautan biru dangkal yang ceria, dari
koral-koral yang tegar menantang ombak, yang haus matahari, dan cangkang
kerang dan siput yang berenang-renang ria di baliknya. Tebing ini, kawan,
dibentuk selama jutaan tahun di dasar laut yang dalam, dingin dan sepi,
oleh cangkang-cangkang binatang laut super kecil yang pelan berjatuhan ke
atasnya.
Setiap kali aku berhadapan dengan batuan kawan, kurasakan diriku mengecil.
Berapa umurmu sekarang? Bandingkan dengan umur 150 juta tahun batu yang
kugenggam ini! Dia menjadi saksi saat tanah ini masih dikuasai
binatang-binatang raksasa! Dinosaurus saling memangsa, dan alam masih belum
tersentuh manusia. Kita ini sangat-sangat muda kawan, dibandingkan dengan
batuan yang kita injak. Kalau semesta dibentuk dalam 24 jam kawan, manusia
pertama, nenek moyang kita, mahluk kasar yang berevolusi dari kera itu, dia
baru muncul pada detik terakhir sebelum hari yang baru dimulai lagi. Kita
bukan apa-apa dibanding alam yang tua. Batu di tanganku ini, dia
mengingatkan pada keagungan.
Episode 6
Dari puncak bukit kulihat tanah ini. Hati berdesir penuh kerinduan. Bukan,
ini bukan tanahku. Tanahku tropis dan bermandi matahari, dan lekuk-lekuknya
kasar dan liar, muda. Tanah ini, yang pelan-pelan muncul dari balik kabut,
adalah tanah tua. Sejarah yang lewat. Tanahku adalah sejarah baru! Ia
sangat muda dan bersemangat. Gunung-gunungnya memuntahkan api, dan
pelan-pelan ditariknya dan ditelannya kerak bumi di dasar Samudra Hindia!
Tanahku tanah aktif. Tanah ini tanah pasif. Pelan-pelan dia tenggelam dan
tenggelam, sampai nanti akhirnya tersungkur di bawah laut.
Epidode 7
Akhirnya, di bawah sinar matahari yang menyiram-nyiramkan kehangatan,
kutinggalkan pulau ini. Sekali lagi menyeberangi selat dengan feri, kali
ini tanpa secangkir kopi panas. Dari atas dek kulayangkan pandangan ke
pulau itu. Bunga-bunga daffodil dan daisy mengangguk-angguk ceria,
melambaikan tangan padaku.
Isle of Wight, 9 April 2001