Prolog
Granit, batuan abu-abu muda yang terlahir dari geliatan magma, cairan panas
perut bumi. Di tubuhnya tersimpan butir-butir mineral-mineral kuarsa dan
feldspar yang kadang putih susu kadang sebening kaca, yang membuat
pantai-pantai di Bangka putih gemerlapan. Dan yang membuat kota yang sedang
kukunjungi ini gemerlap di bawah sinar rembulan.
Ya kawan, kota ini dalam cahaya matahari siang tampak kelabu belaka, karena
seluruh bangunannya terbuat dari granit kawan, kelabu saja. The grey city,
namanya. The granite city. Tapi pada malam hari, siraman purnama yang
menimpa mineral-mineralnya membuat dia berkelip-kelip anggun.
Kelabu kota ini, seperti cuacanya, yang selalu dingin menggigit. Angin,
kota angin, penuh angin. Angin asin dingin dari Laut Utara yang dingin.
Sibuk kota kecil ini, sibuk dengan mesin-mesin besar, kapal-kapal dan
manusia-manusia bergelimang uang minyak. Seperti Balikpapan. Ya, seperti
Balikpapan.
Pagi
Dimulai dari keengganan beranjak dari bawah selimut tebal. Pandangan penuh
cemas ke arah jendela, berharap akan matahari. Biasanya hanya disapa
mendung. Lalu siraman air panas dan geletar kedinginan di samping pemanas
ruangan. Lalu semangkuk cereal dalam susu dan sepotong roti bakar
bermentega.
Lalu langkah demi langkah yang dimulai dengan hirupan napas panjang
memberikan keberanian pada hati yang ciut akan angin dingin. Gemeletuk
sepatu di atas trotoar, napas yang menjadi kabut. Sepotong senyum dan
sebuah lambaian tangan pada seorang wanita tua yang duduk di muka jendela
panti jompo. Samakah dia dengan wanita yang selalu kuberi senyum dan
lambaian setiap hari dua tahun yang lalu? Entahlah, tapi keceriaan yang
tampak di matanya saat menerima sapaan itu sama, keriaan yang lahir dari
hati yang haus sentuhan.
Angin laut yang dingin menusuk-nusuk pipiku yang telanjang. Camar laut
melolong panjang, terbang menyambar-nyambar di atas kepala, memamerkan
keanggunan sayapnya yang panjang dan aerodinamis, meluncur membelah udara,
sebuah balet alami yang indah. Tahinya meluncur turun mengotori atap,
jalanan, mobil, dan orang-orang yang melangkah bergegas.
Siang
Beratus-ratus mahluk-mahluk kecil yang sudah mati dan membatu menyapaku di
balik lensa mikroskop. Dua puluh juta tahun yang lalu, mereka adalah
sebagian kecil dari mahluk-mahluk yang berenang di lautan biru dangkal yang
ceria disiram matahari. Kerang-kerang kecil dan siput-siput dan ganggang
dan koral, ria bergoyang dan berenang diterpa ombak. Kini mereka menyatu di
dalam batuan kecil ini, menjadi saksi, meneriakkan ketuaan umur mereka.
Sama seperti tebing kapur raksasa Whitecliff Bay atau katedral tua Durham
atau muntahan lava panas dari Merapi di utara Yogya atau dentuman ombak di
Wonosari, sesayat tipis batuan yang kuintip dengan mikroskop ini bagiku
juga meneriakkan keagungan. Kita ini hanya kecil saja, kawan.
Malam
Sepi kota ini di malam hari. Tak ada gemerlap pertokoan selewat jam enam
sore. Kehidupan malam berdenyut di dalam pub. Denting gelas bir ditingkah
sorakan atau umpatan fans sepakbola. Tiba-tiba terlintas di kepala, aku
pingin nasi enak, putih dan hangat, dengan teri pepes dan pete bakar,
dengan lalap dan sambal terasi. Kedatangan sebuah burger kacang merah
membuyarkan lamunan.
Di luar langit cerah. Bintang berkerlip menemani dentum sepatuku di
trotoar. Dahan-dahan pohon gundul kuning ditimpa cahaya lampu merkuri.
Epilog
Seraut wajah lama yang pernah mengisi hari-hariku selama 7 tahun lamanya
muncul. Seutas senyum menyapa. Tapi tak ada lagi getar itu. Hilang terbang
bersama camar laut yang anggun, bersama angin yang dingin.
Aberdeen, 12 April 2001