Kamis Putih
Katedral granit berhias sederhana. Gagah abu-abu tanpa pernak-pernik rumit ala Gothic. Gereja kaum nelayan di laut dingin. Tegar menahan tusukan angin kejam. Menaranya mendongak menyapa langit, menjadi singgahan camar laut putih anggun. Di sini, di dekat ujung utara bumi, di dalam katedral kecil ini, kutundukkan kepala, sendirian. Ya sendirian, kawan, meskipun ada sekitar seratus orang lain di sekelilingku, aku sendirian. Mendamba kehadiran bapak, ibu, adik, rekan, atau siapa saja, wajah yang kukenal. Tapi yang kukenal cuma satu, pria yang di altar sana, sendirian, tergantung di salibnya.
Gelegar organ berdentum di dinding, lonceng berdentang dan berkelinting, gloria berkumandang agung. Lalu para pendoa mencicip sepotong roti-tubuhNya dan seteguk anggur-darahNya. Lalu sepi. Yang ada hanya himne sunyi menyayat dari seorang soprano, dan bau dupa. Dia, pria yang kukenal itu, malam ini sendirian.
Lebih sendirian dari diriku yang berteman gemeletuk suara sepatu di trotoar dan desiran angin laut dingin tajam.
Pasio
Katedral megah berbata merah. Langit-langitnya tinggi melengkung, kubah menghitam berkerak. Tiang-tiangnya batu indah berpoles menampakkan mineral kekayaan semesta. Di dinding kanan kirinya, ceruk-ceruk berhias warna-warna, masing-masing kapel-kapel kecil untuk santo ini dan santo itu. Liburan Paskah. Victoria penuh turis. Katedral pun penuh turis. Dentum sepatu bergaung di dinding dan riuh rendah bisikan mengganggu kekusukan. Tiba-tiba sepotong nada menyeruak melayang di udara. Ting. Satu nada. Ting. Lalu lagi. Lagi. Langkah-langkah terhenti, bisikan menghilang. Denting bening suara harpa, melepas nada satu persatu, mengirim keharuan.
Dari perhentian ke perhentian rombongan peziarah berjalan perlahan, menapak jejak, diiring dentingan lembut suara harpa. Nada harpa, mengundang kesunyian dan mengili gelisah batin. Wajah-wajah putih, hitam, kuning dan coklat, asia, latin, afrika, anglo saxon dan mongoloid berbaur. Berlutut, menengadah, memandang penderitaan seorang manusia utama.
Jumat Agung
Matahari menyiram bumi. Langit biru memayung manusia. Salib raksasa di halaman gereja menawarkan keteduhan bayangan. Di dalam rengkuhan katedral tua, salib diusung, salib dicium, salib dihormat. Lalu Dia mati. Dan gereja menekukkan lutut, manusia menundukkan kepala. Sepi. Diam.
Kamar Pengakuan
Mea culpa. Mea culpa. Mea maxima culpa.
Sepasang mata biru dari wajah anglo saxon di atas jubah hitam. Memandang sabar. Sepotong senyum. Menyapa. Di seberangnya, sebuah hati yang penuh keraguan. Terbata-bata. Sebuah hati yang penuh ketakutan. Menelan ludah.
Mea culpa. Mea culpa. Mea maxima culpa.
Bagaimana menyampaikan kekosongan hati ini? Melukiskan keraguannya, kegelisahannya? Pemberontakannya? Bagaimana menggambarkan hati yang menggapai-gapai gelisah? Bagaimana mengakui pengkhianatan? Bagaimana melukiskan ketakutan dan kesepian? Hati yang mencari-cari?
Mea culpa. Mea culpa. Mea maxima culpa.
Sabtu Suci
Katedral tua yang bak miniatur semesta. Gelap gulita. Kubahnya langit. Dindingnya ufuk. Gelap, hanya secercah lilin besar di ujung belakang sana, lalu diusung perlahan, sambil menyebarkan cahaya lilin-lilin kecil-kecil di sampingnya, sampai semesta mini jadi gemerlap berbintang. Lumen Christi. Deo Gratias. Deo Gratias. Dalam remang cahaya lilin, ditingkah suara lagu gregorian paduan suara pria, hati berbisik terharu.
Lalu tiba-tiba semesta berbinar, cahaya merebak dan lonceng bergaung, berdentang-dentang dan berkelintingan, organ berdentum meraung mengumandangkan Gloria. Dinding gereja penuh musik seolah ikut bergetar dan suara manusia terangkat dalam puja-puji penuh syukur. Alelluia. Gereja Katolik Roma dalam keindahan tradisinya mengangkat keagunganNya. Mata ini berkaca dan suara serak tertahan. Dan tiba-tiba teringat di kepala para pengungsi di Sampang, api kemarahan yang belum reda di Maluku, di Aceh, di Sampit. Adakah mereka juga merasakan keagungan dan keindahan ini?
Lalu sejumput doa terlontar, sama dari tahun ke tahun, agar cahaya kedamaian di balik dinding-dinding batu tua ini, yang gemetar dengan keindahan dan keagungan ini, juga bisa terbias keluar. Ke dalam hati mereka yang ada di dingin gelap di luar sana.
Aberdeen-London, 13-15 April 2001
Selamat Paskah, rekan-rekanku semua. Damai bagimu, bagi kita semua, bagi negara kita, bagi dunia.
Berbahagialah kalian semua yang di tengah keluarga dan teman. Sungguh, itu suatu hadiah yang sangat berharga, yang barangkali kita sering lupa. Tadi malam, saat semua orang bercium-ciuman dan bersalam-salaman, aku melangkah pulang sendirian, kedinginan disiram rintik hujan dan angin malam. Dan saat itu aku tahu, betapa bahagianya kalian.