Kalau mau omong-omong soal hantu, sepertinya saat ini saat yang tepat. Di
sini di kota ini aku harus tinggal di apartemen yang letaknya di atas
gedung kantor. Pada malam hari, di gedung enam lantai ini, hanya ada bapak
satpam di lantai satu, dan aku di lantai enam. Sisanya blong kosong dan
gelap. Saat ini di lantai empat hanya ada satu kamar yang masih berlampu,
kamar kerjaku, yang lain sudah gelap. Hanya ada satu makhluk yang bernapas,
aku thok, sibuk menulis email untuk menghapus kesepian. Beginilah tak
enaknya tugas singkat. Tidak pernah sempat punya teman, jadi setiap kali ya
selalu luntang-lantung sendirian.
Kembali ke soal hantu, pernah ada orang Indonesia lain yang juga bertugas singkat
di sini dan dia mengaku bertemu dengan hantu di apartemen di atas itu. Lalu
ceritanya dimuat di majalah internal kami, yang agak mengesalkan juga
buatku, karena sejak saat itu orang Indonesia selalu dianggap
superstitious, percaya tahayul, oleh manusia-manusia yang selalu berpikir
dingin logis di sekitarku ini. Maka tersinggunglah aku.
Memang pernah dulu aku mengaku takut. Tapi kondisinya lain. Waktu itu ada
tugas lapangan di suatu daerah pedesaan yang indah di pegunungan di tengah
Inggris. Lalu kami harus tinggal di sebuah puri tua yang diubah jadi hotel
eksklusif. Persis seperti cerita-cerita Lima Sekawan. Jalan masuknya
berkelok-kelok diapit dinding tinggi dengan obor-obor di atas dinding.
Tangga-tangganya kayu berkeriut-keriut. Lorongnya batu dingin, panjang dan
suram. Karena, lagi-lagi, jadi satu-satunya perempuan dalam grup, aku dapat
kamar yang megah, besar dan mewah di sebuah sayap, sendirian. Di
dinding-dinding kamar tergantung lukisan-lukisan pria-pria jaman dulu
dengan mata yang menatap tajam dan warna yang suram, juga kaca-kaca besar
dengan pigura keemasan. Tempat tidurku di tengah ruangan, besar, empuk dan
berlapis-lapis bak peraduan putri raja. Bukannya merasa jadi putri raja,
aku malah takut. Kamar mandinya juga besar sekali, dengan bak mandi berkaki
empat berukir di atas karpet tebal di tengah-tengah ruangan, dan satu
dindingnya penuh dengan kaca. Bukannya merasa seksi, aku malah merasa
seram. Apalagi saat itu musim dingin, hari cepat sekali gelap, dan angin
selalu bertiup menderu-deru memukul-mukul kaca. Saat itu, aku mengaku pada
mereka, aku takut. Tapi karena toh tidak mungkin minta ditemani tidur oleh
salah satu bos atau rekan kerjaku, maka ya tidur sendirianlah aku. Dan lalu
kutemukan jalan: setelah menenggak dua-tiga gelas anggur di saat makan
malam, biasanya rasa takut hilang sama sekali.
Kali ini soal hantu lain. Hantu Gedung Opera Paris yang terkenal itu. Ya,
The Phantom of The Opera. Cerita klasik karya Gaston Leroux, pengarang yang
tidak begitu terkenal, yang jadi terkenal karena karyanya diangkat dalam berbagai
film dan akhirnya, diangkat dalam suatu drama musikal dengan musik yang
ditata oleh Andrew Lloyd-Weber. Tadi malam setelah berusaha keras
mendapatkan karcis (selalu penuh pertunjukan ini!) akhirnya berhasillah aku
mendapatkan tempat di pojokan balkon paling atas, paling tersembunyi,
sehingga harus selalu menjulurkan leher untuk bisa melihat panggung, dan
paling dingin, sehingga harus berbungkus rapat-rapat. Ya, karcis termurah,
walaupun kalau dirupiahkan jadinya tidak murah lagi.
Cerita tiga anak manusia yang diombang-ambing cinta. Si buruk rupa Hantu
Gedung Opera raja bawah tanah yang diam-diam mencintai Sang Prima Donna dan
mengajarnya menyanyi indah. Yang ingin memilikinya dengan kecemburuan besar
dan akibatnya siap melakukan apa saja, termasuk membunuh. Sang Prima Donna
yang terbuai khayal diajar menyanyi oleh Malaikat Musik sehingga ragu
mengikuti kekasihnya, si bangsawan muda. Cerita yang sudah kuakrabi sejak
lama, walaupun kisah di panggung tidak setragis kisah di buku. Seperti film
animasi The Hunchback of Notre Dame-nya Disney yang juga tidak berakhir
tragis seperti buku aslinya. Mungkin manusia memang tidak suka menonton yang
sedih-sedih.
Yang jelas, pertunjukan tadi malam sungguh luar biasa. Lagu-lagu yang
sangat akrab di telingaku (pernah suatu kali aku setel kasetnya setiap
hari, menemaniku menyupir pulang kantor), jadi terasa baru dan lebih indah,
lebih menggelegar sekaligus menyentuh, disuarakan langsung oleh dua orang
tenor dan seorang soprano yang jadi bintang utamanya. Akustik gedung yang
benar-benar bagus membungkus kami dalam musik. Tata panggung luar biasa,
dan permainan cahaya! Permainan cahaya yang sungguh mengesankan. Hanya
dengan memainkan lampu, mereka bisa membuat ilusi, panggung jadi seperti
ikut menari, jadi memanjang, memendek, jadi atap, jadi sungai. Luar biasa.
Sungguh, adegan saat The Phantom berperahu di sungai bawah tanah
benar-benar mulus bak sungai bawah tanah asli.
Dan jelas, emosi dan penjiwaan mereka, tercermin dalam setiap gerak dan
nada. Dan tertularkan pada penonton. Hantu Gedung Opera yang kesepian.
Penggubah musik malam. Aku jatuh cinta padanya, manusia kesepian itu. Maka bahkan setelah tirai panggung diturunkan, dan tepukan panjang berakhir, di telingaku masih terdengar musiknya, di kepalaku masih terbayang gerak dan tarian jiwanya. Dan duduk di dalam kereta bawah tanah yang kosong dan kemudian kembali ke apartemen yang
kosong dan gelap, aku berteman akrab dengan Hantu Gedung Opera.
....for I compose the music of the night......
Close your eyes ‘cause your eyes can only tell the truth… and the truth
isn’t what you want to see....
Close your eyes, let the music set you free.... Only then can you belong to
me....
London, 18 April 2001