Coretan Musim Semi: 8. Romansa
Kota romansa, kota cinta. Semi di kota romansa.
Daun-daun menghijau dan bunga-bunga bertebaran disiram rintik hujan.
Turis lalu lalang di seputar titik-titik sejarah. Seperti aku.
Melangkahkan kaki tak henti di atas trotoar.
Hati-hati menghindari tai-tai anjing yang bertebaran
Mata melirik sana-sini ke toko-toko kue kecil yang harum
Mulut menganga kagum akan warisan sejarah.
Mundur dalam dimensi waktu
Di sana gladiator bertarung di tengah arena
Di situ prajurit Romawi yang asyik berendam air panas
sementara rekannya di belahan dunia yang lain sedang menyalibkan Guruku
Kukenangkan jaman gelap saat kepala-kepala bergelundungan dihantam guillotine.
kemenangan rakyat jelata dan mabuk anarki sesudahnya
kubayangkan gilang gemilang jenderal jaya memimpin prajurit perang
saat satu bangsa menelan bangsa yang lain
derap pasukan berkuda dan dentuman meriam
seorang manusia yang mengangkat mahkota, memaklumkan dirinya kaisar
Kisah-kisah tersimpan
Di gedung opera ini lahir kisah Hantu Gedung Opera
Manusia kesepian itu
Di Katedral ini lahir kisah si Bongkok
Manusia kesepian lainnya
Di sungai ini kerak sejarah menempel di sana-sini
Kembali ke masa kini. Ke kota romansa. Kota cinta.
Pasangan-pasangan bergandengan dan berciuman.
Dan kawan, kali ini aku tidak sendirian.
Sebuah tangan merangkum jemariku
sebuah lengan melingkar pundakku
sebuah suara membisik telingaku
sebuah hidung menyentuh pipiku
Di sini, di kota romansa
Hatiku hangat bersimbah cinta.
Paris, 25 April 2001
Posted at 08:00 pm by
koeniel