Kami sampai di London hari Sabtu tanggal 20 Nov jam 5 pagi waktu setempat. Waktu Greenwich, waktu meridian 0 dunia. Wow. Aku ada di dekat meridian 0 dunia!
Terminal airport sepi dan dingin, kupikir "Alamak, ACnya lebih dingin daripada di kantor." Sambil tertawa David bosku berkomentar, "Dingin ya? Tapi ini bukan AC lho..." Ternyata memang bukan, itu dingin asli alam, 3 derajat Celcius suhu udara saat itu...brrrhhh.... Di luar udah ditunggu oleh Pat, supir CEO Charles Jamieson. Duduk di jok belakang, tempat CEO biasa duduk. Ternyata rasanya biasa-biasa saja, sama seperti duduk di mobil Kijang jemputan pagi........ Waktu itu London masih gelap. Jalan-jalan sepi. Kami melewati siluet gedung-gedung tua dengan batang-batang pohon tak berdaun.... agak mengerikan.
Sesampai di flat kantor aku langsung mandi, lalu jam 9 kami bertiga, aku, Wayne dan David, dua-duanya bosku, mulai merambahi trotoir kota London. Begitu bersemangatnya kami, karena ini pertama kalinya kakiku menginjak sebuah kota Eropa dan ini juga pertama kalinya Wayne berkesempatan meng-eksplore London. Sedangkan David berperan sebagai tuan rumah, dengan begitu senangnya ia menunjukkan London tempatnya mengambil master degree dulu (dia kuliah setahun di Imperial College, sebuah kolese berlokasi gedung tua indah di barat London). Kami membeli Travelday Ticket yang bisa dipakai naik tube alias underground (kereta api
bawah tanah) atau bis sesukanya selama sehari. Tapi nyatanya toh kami lebih banyak berjalan kaki. Pertama ke Buckingham Palace, yang letaknya tidak jauh dari flat kantor. Lalu menuju ke timur, ke Tower of London dengan Tower Bridge-nya, melewati Westminster Abbey tempat para anggota keluarga kerajaan menikah, juga gedung Parlemen dan Big Ben-nya. London, kota metropolitan yang indah, indah karena tua!! Lalu lintasnya seperti Jakarta, ramai. Tapi disiplinnya beda, jelas. Manusianya juga banyak sekali. Tapi suasananya itu lho! London bukan hutan beton bertingkat seperti Jakarta! Bahkan toko-toko dan supermarket modern pun memakai gedung asli yang tua dan antik di bagian luarnya.
Lalu dari ujung timur itu kami kembali ke tengah, menuju Charing Cross dan Trafalgar Square, berfoto dengan beratus-ratus burung di situ. Lalu masuk ke National Gallery dan menikmati lukisan-lukisan terkenal di sana - van Gogh, Monet, Manet, Degas, Pissarro, Renoir, Cezanne, Sisley, Picasso, Goya... semua yang tadinya hanya bisa kunikmati di buku sekarang tampak dalam ukuran aslinya! Dan museum itu penuh orang, tidak sepi seperti museum-museum di kampungku di Jakarta. Turis, anak sekolah, penduduk London.....
Di tepi sungai Thames kami melewati seorang pemusik jalanan yang sedang memainkan flute-nya di pinggir sungai. Tiba-tiba seorang laki-laki tua yang berjalan mendekat, agak sempoyongan sambil tangannya memegang botol. Mabuk rupanya. Si Pemabuk ini memberikan komentar pedas tentang permainan musik si Pengamen. Langsunglah tinju si Pengamen menghantam si Pemabuk, dan bergulung-gulunglah mereka berkelahi di tepi sungai, dengan ditonton oleh orang banyak, termasuk Wayne, David dan aku yang sibuk memotreti mereka J
Begitulah, seharian penuh kami memakai kaki. Aku mesti berlari-lari kecil mencoba menyamai langkah panjang dan cepat Wayne & David. Udara dingin menyengat. Tanganku sampai mati rasa, sehingga tiap beberapa jam kami harus mencari cafe atau pub buat menghangatkan diri dengan secangkir kopi atau segelas bir.
Sore-sore kami berputar-putar di daerah Piccadily Circus dan Leicester Square, menontoni pertunjukan jalanan dan pengamen. Walaupun judulnya pengamen, mereka betul-betul pro dan memainkan musik yang bagus. Ada satu grup musik tiup, ada pemain harpa tunggal. Seniman pertunjukan jalanan seperti pelawak, pesulap, pemain acrobat dan sebagainya juga memberikan pertunjukan yang menarik dan bermutu. Bagus betul. Yang menonton juga luar biasa banyak. Sehingga untuk berjalan pun sulit - begitu banyaknya orang.
Tanpa pulang dulu malam itu juga kami menonton drama musikal di Soho, karcis termurah (£ 10) dengan tempat di balkon paling atas. Pengantri karcis berderet-deret di sepanjang jalan. Masing-masing antrian betul-betul panjang. Tampaknya pertunjukan teater dan drama musical betul-betul diminati di sini. Sepulang nonton aku sempat merenung iri - alangkah banyaknya santapan kultural yang bisa dinikmati di sini: museum, galeri, teater..........
Tapi kami sempat juga berjalan melewati para tunawisma. Mereka tidur di pinggir jalan berbalut sleeping bag, berbagai selimut, kardus dan karton tebal. Ah kasihan betul jadi orang miskin di sini, di udara yang dingin begini! Tapi menurut David mereka masih jauh lebih beruntung daripada orang miskin di Indonesia. Mereka diberi tunjangan oleh negara, sehingga banyak di antara mereka yang sebetulnya bisa bekerja sengaja tidak bekerja. Ah.. apa iya, pikirku. Apakah sebegitu mudahnya mencari pekerjaan di sini... apakah mereka bukan korban juga. Kupikir orang tidak akan bisa merasa nyaman hidup terus-menerus dari tunjangan yang pas-pasan itu.
Paginya aku bangun telat, karena baru tertidur sejam sebelumnya. Setelah mandi aku sibuk mengepak koper super besarku yang isinya kebanyakan seismic sections dan laporan-laporan, dengan celana-celana dalamku berjejal di antaranya. Waktu aku keluar kamar, kedua bosku David dan Wayne dengan rukunnya sedang memasak sarapan. Mereka sempat bingung, tidak tahu cara menyalakan kompor elektronik canggih yang ada di situ. Waktu mereka bertanya padaku aku Cuma tertawa – di rumahku kami masih memakai kompor minyak J dapur itu terlalu canggih buatku. Karena gagal, akhirnya terpaksalah telur dan bacon dimasak di dalam microwave. Lalu kami makan pagi dan aku mencuci piring. Kemudian turun ke lapangan parkir di basement dan menaiki mobil sedan sewaan, meluncur ke utara menuju ke Derbyshire.
(bersambung)