Thursday, January 31, 2008
Tukang Becak

 

Desember lalu sempat ke 'pulang' ke Yogya (lahir besar di Jakarta, tapi berhubung sempat kuliah panjang alias gak lulus-lulus di Yogya, dan ortu asal Yogya, jadi setiap pergi ke Yogya merasa pulang). Cuma dua hari. Maunya sih lama tapi sempatnya cuma dua hari ya sudah, dijalani. Nengok keluarga Ibu di Nanggulan, Kulon Progo, sana sebentar. Ketemu keluarga Bapak di Yogya sebentar. Ketemu teman kuliah sebentar. Sisanya di Yogya, menyusuri jalan kenangan.

Di sana ke mana-mana naik becak. Dari Prawirotaman ke Malioboro menurut info lokal biayanya sekitar 10 ribu sampai 15 ribu. Ternyata setelah mengalami naik becak ke Malioboro, rasanya kok terlalu murah 15 ribu pun, kerna jalan macet, mana menanjak pula.
Belum beban yang berat kerna kedua penumpang overweight semua. Akhirnya si Bapak penarik becak kami beri 30 ribu.

 

Lalu si bapak becak kami minta menunggu sampai kami selesai belanja. Jadi dia balik mengantar ke Prawirotaman dan kami beri 30 ribu lagi. Si Tukang Becak kaget, lalu mengembalikan uang itu dan bilang begini: Ampun kathah-kathah to Mbak.... (jangan banyak-banyak lah Mbak)

Gantian kami yang kaget. Berpandang-pandangan. Bapak becak ini gimana tho, dikasi uang lebih kok ndak mau. Setelah kami paksa (Lho Pak, kami kalo nggenjot sendiri
kan nggak kuat lho. Iya Pak, kami ini gendut-gendut begini lagi, kan berat loh. Lagian tadi kan macet Pak) akhirnya dia mau, tapi sepertinya dengan muka bersalah begitu. Lalu berterima kasih terima kasih sembari mundhuk-mundhuk, berjalan menjauhi kami pun seperti mundur hormat.

Kami jadi serba salah dan agak terharu juga. Berapa sih nilainya 30 ribu di Jakarta?
Segelas kopi di Starbuck? Seporsi nasi goreng untuk makan siang di Chopstix? Belanjaan di kantung-kantung yang kami pegang ini saja bisa sepuluh kali 30 ribu nilainya. Malah lebih. Sementara si Bapak ini harus terengah-engah menggenjot becak berisi dua orang gendut di dalamnya dengan uang cuma segitu.

Kata teman yang aseli Yogya, bapak itu merasa beruntung banget kerna itu pendapatan jauh lebih banyak dari hari biasa. Jadi biasanya mereka dapat berapa sehari? Yah, 30 ribu paling. Itu belum dikurangi biaya sewa becak. Duh. Padahal makan di pinggir jalan di Yogya sekarang juga sudah nggak murah seperti jaman kuliah dulu. Gimana caranya dia bisa menyekolahkan anak? Ya ndak salah kalau tukang becak langganan teman lain sering bilang hidup ini seperti roda. Berputar. Kadang di bawah, kadang kelindes. Mungkin banyak kelindesnya mereka.

Herannya para bapak penarik becak di Yogya ini kok masih bisa bercanda tertawa-tawa, masih bisa merasa ongkos becak yang kami bayar terlalu banyak. Sepertinya sikap hidup mereka nrimo, semeleh, pasrah.

Memikirkan si bapak becak dan teman-temannya leher ini sampai jadi tercekat rasanya. Besok paginya kami cari lagi dia lalu kami carter keliling Yogya. Biarlah dua hari itu dia bisa menabung lebih.

 

 


Posted at 09:35 pm by koeniel
Comments (5)  




Tuesday, January 15, 2008
Tentang Tempe

Begini kalau anak-anak Indonesia yang terpaksa tinggal jauh dari kampung halaman sedang kangen sama kampungnya, maksudnya pada makanannya, bukan kemacetan jalan-jalannya.

Beramai-ramai kami kumpul di sebuah apartemen yang populer jadi tempat ngumpul kerna punya dapur sedikit lega. Ada yang membawa sebungkus kecil ikan asin - rupanya oleh-oleh dari ibunya yang datang dua bulan yang lalu. Ada yang membawa terasi, sepotong kecil, dibungkus plastik bluwek tapi diperlakukan bak barang sangat berharga. Maklum belacan alias terasi produk negeri Singa rasanya kurang pas di lidah Indonesia. Ada yang membawa krupuk. Yang baru dua hari lalu datang dari tugas di Jakarta membawa sebungkus melinjo dan daun melinjo. Lalu yang disoraki paling hangat adalah yang membawa tempe. Kerna tempe yang dibawa tempe Indonesia aseli, bungkus daun, rasanya sungguh beda dari tempe van Singapura yang kadang ada di supermarket.

Ditambah bahan-bahan lain yang bisa dibeli di toko lokal - kacang panjang, labu siam, terong, cabe, tomat dan sebagainya, mulailah menu nasi hangat, sayur lodeh, sambal terasi, ikan asin goreng dan tempe goreng diracik, dimasak. Belum masakan selesai air liur sudah berleleran. Lha baunya sedap sekali. Biarlah tetangga mengeluh atas polusi bau terasi dan ikan asin. Biasanya mereka yang mengeroyok dengan bau kari.

Begitu sayur lodeh matang langsung makanan diserbu. Dan pemandangan jadi khas Indonesia sekali, meja makan dikelilingi orang-orang yang berkeringat dan dan berdesah-desah kepedasan. Lha yang membuat sambal galak sekali, sehingga sambalnya pun galak sekali. huh hah huh hah. Suara di sekitar meja makan juga khas Indonesia, kerna diselingi kriuk kriuk bunyi gigitan kerupuk.

Menu paling populer tentulah tempe goreng. Orang Jawa mana yang bisa hidup tanpa tempe. Yang ada di sekeliling meja makan ini kulitnya macam-macam - cokelat khas Jawa, kuning dengan mata sipit dan logat medok bahasa Jawa Tionghoa dan kulit putih londo yang merasa diri Jawa kerna penggemar rawon dan tempe. Semuanya mendesah-desah kesenangan makan tempe goreng panas, sembari mengakui tempe sebagai makanan para dewa. Hidup Tempe!!! Sedapnya bukan kepalang. Rasanya mak nyuuuusss....

Jadi ikut berduka cita atas naiknya harga kedelai dan liburnya para pedagang tempe di Indonesia.

Posted at 01:15 pm by koeniel
Comments (2)  




Monday, July 09, 2007
Kembar Siam

Melihat Pakistan dan India, apalagi India bagian utara, adalah seperti melihat kembar siam. Kembar siam yang dipisahkan oleh sebuah operasi. Keduanya, dan juga Bangadesh, adalah satu daerah jajahan Inggris British India, sampai saat kemerdekaan tahun 1947 ketika daerah British India dibagi dua, yang mayoritas Muslim menjadi Pakistan dan yang mayoritas Hindu menjadi India (selanjutnya Bangladesh yang tadinya adalah Pakistan Timur memisahkan diri menjadi negara berdaulat tahun 1971). Satu bangsa sebenarnya, tapi dipisahkan dua ideologi.

 

 

Tak heran banyak kemiripan yang dijumpai di keduanya. Mendarat lalu berkendara di New Delhi menjelang tengah malam terasa seperti deja vu, seperti mengalami hal yang sama seperti yang dulu dialami di Islamabad. Rumah-rumah bentuknya mirip - atapnya kebanyakan datar - tidak miring, pertanda daerah kering? Orang-orangnya - terutama yang lelaki - juga mirip. Rumah-rumah besar - gedong, kata orang Betawi - dan jalan-jalan sepi sama-sama berselimutkan debu, yang kelihatan jelas di cahaya lampu mobil. Para tentara menjaga jalan-jalan sembari menggembol senjata laras panjang. Kebanyakan mereka berkumis dan sebagian berjenggot - deja vu. Seperti empat tahun lalu di Islamabad.

 

 an Indian lady

 

Sebagai sesama ibu kota Delhi tidak bisa dibandingkan langsung dengan Islamabad. Ukurannya saja berbeda, Delhi 1,5 kali lebih luas dari Islamabad. Populasinya juga beda, Delhi punya 13 juta penduduk, jauh lebih banyak dibanding Islamabad yang cuma punya  1 jutaan. Delhi punya lalu lintas yang sangat ruwet sementara jalan-jalan di Islamabad lurus-teratur-sepi. Memang Islamabad adalah kota yang dirancang khusus untuk jadi ibukota, waktu pusat pemerintahan dipindah dari Karachi ke sini. Makanya kota ini kecil dan rapi. Tapi sebenarnya kalau kita keluar sedikit lalu masuk ke kota tetangganya yang lebih tua, Rawalpindi, ya sama saja. Lalu lintas ruwet, berantakan, pemakai jalan tidak disiplin, pasar yang tumpah ke jalan, pokoknya lengkap dengan segala atribut idiosinkratiknya sebuah kota di Asia. Islamabad digabung dengan Rawalpindi lalu jadi seperti Delhi.

 

 a pakistani lady

 

Sebetulnya kota-kota yang lebih mirip lagi adalah kota-kota peristirahatan di perbukitan di kaki Himalaya. Pakistan punya Murree and India punya Mussoorie. Bagian utara India dan Pakistan sama-sama punya topografi dataran rendah di bagian selatan dan pegunungan terjal di bagian utara. Puncak tertinggi di Pakistan K2 tingginya 8,611 m, sedang puncak tertinggi India Kanchenjunga tingginya 8,598 m. Di kaki pegunungan yang adalah bagian dari Himalaya ini pemerintah kolonial Inggris membangun kota-kota yang jadi tempat peristirahatan karena cuacanya yang sejuk.

 

Berkendara di jalan berkelok-kelok dari Dehradun ke Mussoorie di suatu hari Minggu rasanya seperti mengalami deja vu. Pengalaman dan ingatan tertukar-tukar dengan perjalanan tiga-empat tahun lalu dari Islamabad ke Murree. Jalan di perbukitan yang panjang, sempit dan berkelok-kelok itu sama. Dinding bebatuan terjal di satu sisi dan jurang curam di sisi lain juga mirip - bebatuannya sama, bebatuan berumur sangat tua ratusan juta tahun, yang tadinya terbentuk di dasar laut tapi lalu terangkat menjadi pegunungan saat anak benua India menabrak benua Asia.

 

 a pakistani driver

 

Pepohonan juga sama. Kendaraan-kendaraan yang ada di jalan juga mirip. Hanya di India tidak ada bus berhias warna-warni seperti di Pakistan, dan di Pakistan tidak ada bajaj berjalan merambat naik ke bukit atau sapi yang ngeloyor di tengah jalan.

 

Berhenti di tengah-tengah kota Mussoorie juga seperti berhenti di tengah-tengah Murree. Kadang otak ini jadi bingung - sedang di Indiakah atau di Pakistan? Mussoorie? Murree? Orang-orangnya terlihat sama, ruwetnya lalu lintas sama, dan baunya pun sama.

 

 an indian porter

 

Kedai-kedai makanan di pinggir jalan juga mirip - menjual chai, yaitu teh dengan susu yang kental dan manis, serta dibumbui rempah-rempah. Memang orang-orang Pakistan dan India utara sama-sama tergila-gila pada teh. Lalu ada kue-kue dan penganan yang semua rasanya sangat sangat manis, yang sampai bisa membuat kita bergidik saking terlalu manisnya. Rupanya mereka sama-sama keranjingan makanan manis. Makanan lain juga mirip rasanya, rasa kari.

 

Yang bisa membedakan barangkali adalah tulisan-tulisan di papan nama toko-toko. Di Murree, Pakistan, yang dipakai bahasa Urdu, di Mussoorie, India, bahasa Hindi. Sebetulnya keduanya bahasa yang sama, tapi ditulis dengan tulisan berbeda. Bahasa Urdu ditulis dengan huruf Arab-Parsi dan Hindi dengan Sansekerta Devanagari. Bahasa Urdu banyak mengandung kosakata Arab dan bahasa Hindi kosakata Sansekerta. Tapi keduanya buat telinga orang asing terdengar sama persis, susah dibedakan. Gelengan kepala dan goyangan dagu yang menyertai setiap percakapan juga sama persis! Lha piye, memang bangsa yang sama kok!

 

 

see more photos from India and Pakistan at: http://koeniel.fotopic.net

 

 

 


Posted at 02:14 am by koeniel
Comments (6)  




Monday, June 25, 2007
Paman Tua Pengumpul Koran Bekas

"Xie xie. Xie xie." Terima kasih, begitu si Uncle alias Paman tua itu
selalu berucap pada setiap orang yang memberinya koran bekas. Si Paman
tua itu jadi pemandangan yang rutin di halaman belakang stasiun
Tanjong Pagar. Dia selalu berdiri di situ dengan kaus singlet, celana
pendek gombrong dan sandalnya. Badannya kurus, agak bungkuk. Rambutnya
putih, mukanya keriput. Di samping kakinya ada dua kantung plastik
berisi koran bekas.

Dia selalu tersenyum ceria dan mengangguk-angguk hormat kala menerima
koran bekas dari tangan penumpang kereta. Lalu terbungkuk-bungkuk
dimasukkannya koran bekas tadi ke dalam tas plastik. Kadang dia harus
pelan-pelan jongkok untuk mengatur koran-koran tadi sehingga tas
plastik bisa memuat lebih banyak lagi.

Kelihatannya banyak yang suka padanya, karena orang-orang sering
mengantri menunggu dengan sabar sampai dia selesai mengatur korannya
dan bisa menerima tambahan koran lagi. Padahal di kota ini tempo
sangat tinggi, orang selalu berjalan cepat, terburu-buru, tidak sabar.
Tapi jadi bisa sabar ketika berhadapan dengan Paman tua pengumpul
koran bekas ini.

Apakah mereka merasa kasihan padanya? Atau mereka berkaca -
membayangkan suatu saat harus berada dalam posisinya? Ini kota yang
keras, kejam. Anak-anak muda bekerja keras, bersaing dan berambisi
tinggi. Saat ini mungkin hasilnya baik tapi apa bisa menjamin
kehidupan sampai mereka tua, sehingga bisa pensiun dan tidak perlu
bekerja keras seperti si Paman tua pengumpul koran bekas ini, atau
paman-paman dan bibi-bibi tua lain yang bekerja sebagai petugas
kebersihan di kantor-kantor, foodcourt dan restoran?

Apapun yang ada di benak mereka para penumpang kereta, anak-anak muda
kantoran yang selalu berjalan terburu-buru ini, biasanya melambatkan
jalannya untuk memberikan koran bekas pada si Paman tua. Lalu seperti
adegan film slow motion pipi keriput si Paman jadi makin keriput
dengan senyumnya.

Itu adegan yang menghibur sekali, bahkan jadi kutunggu-tunggu setiap
hari. Walaupun tidak langganan koran, kadang 'kucuri' koran bekas di
kantor untuk dibawa pulang dan besok kuserahkan ke si Paman. Terakhir
pulang dari Jakarta kubeli semua koran yang ada di kios - Kompas,
Jakarta Post, Suara Pembaruan, serta beberapa tabloid. Waktu di
pesawat ditawari koran lagi, dengan rakus kuambil juga. Satu-satu
kubaca dan satu-satu kubawa padanya di pagi hari.

Tapi Senin pagi dua minggu yang lalu si Paman tidak ada. Sudut di
dekat tempat sampah itu kosong. Bukan cuma aku yang kecele. Ada
beberapa anak muda kantoran lain yang biasanya juga berjalan
terburu-buru yang melambatkan jalannya, lalu berhenti. Lalu sepertiku,
tangan mereka yang mau mengulurkan koran bekas terhenti sejenak di
tengah udara. Ke mana si Paman tua?

Biasanya dia hanya libur sebentar. Di saat pesta ria Chinese New Year
dia cuma menghilang seminggu. Itupun kami maklum, karena kota ini juga
berhenti bergerak selama seminggu - daerah perkantoran sepi. Tapi
sekarang ini bukan Chinese New Year. Waisak sudah lewat 3 minggu.
Seandainya dia berlibur harusnya dia sudah kembali. Tapi Paman tua
pengumpul koran bekas sudah menghilang dua minggu. Tidak biasanya.

Anak-anak muda kantoran yang biasa terburu-buru, juga aku, masih
sering melambat dan sedikit menengok ke sudut itu ketika keluar dari
stasiun. Berharap paman tua dengan senyum keriput dan dua tas
plastiknya akan berdiri di situ. Tapi dia tetap tidak ada. hanya ada
kotak sampah hitam besar. Dan hati ini tidak berani berspekulasi, ke
mana kau Paman?

Singapore, 25 June 2007


Posted at 09:28 pm by koeniel
Make a comment  




Thursday, May 24, 2007
Kari

 

Kalau ditanya apa penciri utama India, rasanya jawabannya adalah kari. Kenapa kok kari.Yah, India itu besar sekali, luasnya 3.3 juta km2, nomor 7 terbesar di dunia (bandingkan dengan Indonesia yang 1.9 juta km2, nomor 15 terbesar).  Penduduknya juga banyak, lebih dari 1 milyar gundul (penduduk Indonesia 220 juta 'saja'). Penduduknya punya warna kulit berbeda, di utara kebanyakan bekulit terang, sementara di selatan berkulit gelap. Bahasanya juga beragam. Budayanya beragam. Tapi dimana-mana makanannya kari. Mungkin ini pandangan orang luar saja, buat mereka pasti rasa makanan berbeda dari daerah ke daerah, yang dari utara rasanya berbeda dengan dari selatan. Tapi buat orang luar yang cuma sempat sejenak saja mengintip budaya mereka, rasanya makanan mereka semua berbumbu kari.

 

Ini kesimpulan setelah mencobai hampir semua masakan yang ada di daftar menu di restoran hotel Great Value di Dehradun. Maklum kota kecil, tidak banyak ada restoran besar sementara kebanyakan pendatang takut makan di warung takut sakit perut. Akhirnya memang hanya satu restoran ini yang disatroni terus-terusan. Di menu sih tertera asal daerah masakan itu, ada yang dari utara, ada yang dari selatan. Tapi kok rasanya semua sama ya. Susah sekali dibedakan. Mungkin kerna bumbunya mirip-mirip dan rasanya tajam, perbedaan yang sedikit jadi hilang.

 

 

Sebetulnya berhubung penduduknya banyak, budayanya berbeda dan iklim serta topografinya berbeda, makanan India juga jadi bervariasi. Misalnya dijelaskan oleh mereka bahwa di selatan karina beras mudah ditemukan mereka banyak makan nasi. Semakin ke utara kondisi semakin kering dan gandum serta jenis bebijian lain lebih mudah ditemukan, maka roti yang jadi makanan utama. Kalau di selatan kuah kentalnya berbasis santan, di utara berbasis yoghurt atau susu.

 

Roti pun bisa berbeda-beda, ada parantha, chapati, naan, poori. Tapi semuanya berbentuk bundar ceper tipis, dibuat dari tepung gandum, dan umumnya tanpa ragi. Bedanya paling-paling ada yang digoreng ada yang dipanggang. Terus terang sih kalau untuk pendatang rasanya tetap mirip. Juga segala rupa makanan berkuah kental (jarang sekali ada yang berkuah encer macam sop bening). Bahannya bisa vegetarian dari kacang-kacangan (jarang sekali dari sayuran hijau) dan keju atau kalau non vegetarian biasanya ayam atau kambing, tapi rasa akhirnya ya cukup serupa rasa khas kari. Begitupun makanan yang setengah kering semacam panggang-panggangan, pasti tetap ada rasa bumbu karinya. Lha wong omelette dan chinese fried rice saja bisa berasa kari kok. Malah seringkali bau badanpun seperti sedikit beraroma kari :O

 

 

Tadinya sebetulnya ada kandidat lain penciri utama India, yaitu chai, alias teh. Soalnya kelihatannya mereka suka sekali teh. Misalnya di kereta Dehradun-New Delhi yang lama perjalanannya enam jam itu, kami ditawari teh 4 kali. Setiap kali petugas datang membagi-bagikan bungkusan teh celup serta sebuah termos air panas dan cangkir. Di kantor klien di Dehradun juga setiap beberapa jam kami harus berhenti bekerja untuk ramai-ramai minum teh panas. Tidak ada kopi. Ketika seorang kolega mengharapkan kopi dijawab oleh mereka maaf tidak ada kopi di sini. Hanya ada air mineral dan teh.

 

Orang-orang India bahkan kelihatan lebih parah tergila-gilanya pada teh dibanding orang Inggris yang sebetulnya pertama mengenalkan mereka pada teh. Teh selalu disajikan panas, tidak pernah dingin. Bahkan saat panas terik siang haripun di pinggir-pinggir jalan banyak dijual teh panas. Memang dengan minum teh panas paling tidak airnya telah direbus, sehingga orang lebih terlindung dari penyakit yang disebabkan minum air yang tercemar.

 

Kalau di Cina, Jepang dan Singapura teh hijau yang paling populer di India teh hijau malah tidak banyak dikenal. Kalau kita ke restoran dan bertanya tentang teh hijau biasanya para pelayan jadi bingung. Tapi di India ada teh yang rasanya enak sekali: masala chai. Ini adalah teh susu yang manis dan dicampuri berbagai bumbu seperti kayu manis, cengkeh, pala dan sebagainya.

 

Dengan begitu populernya teh, apalagi India adalah pengekspor teh terbesar di dunia, dengan daerah Assam dan Darjeeling yang begitu terkenal akan perkebunan tehnya, sudah layak teh jadi kandidat penciri India. Tapi setelah tanya kanan-kiri ternyata kesukaan akan teh ini tidak merata di semua bagian India. Ternyata di bagian selatan banyak yang memilih kopi dibanding dengan teh.

 

 

Ada hal-hal lain yang bisa dijadikan kandidat penciri utama India. Sari misalnya. Pakaian tradisional perempuan India ini terdiri dari tiga bagian, rok dalam alias lehanga, blus pendek choli (yang menyisakan bagian terbuka di sekitar perut) dan kain panjang yang biasanya dilingkarkan di pinggang kemudian disampirkan di pundak. Ternyata ada banyak macam gaya dan cara memakai kain panjang ini, berbeda-beda di setiap daerah, tapi hampir selalu warnanya terang dan menyolok. Hampir sari ini lolos jadi kandidat penciri India. Tapi sari hanya dipakai perempuan, dan di India bagian utara kebanyakan perempuan memakai pakaian model lain - shalwar kameez, blus panjang dengan celana gembung, ditemani selendang dupatta, seperti yang dipakai perempuan-perempuan Pakistan.

 

Begitulah akhirnya kesimpulannya kembali ke kari. Mungkin orang India sendiri tidak akan memilih kari sebagai identitas nasionalnya. Tapi sebagai orang luar yang hanya punya kesempatan sedikit mengintip budaya mereka aku tetap akan memilih kari.

 

 


Posted at 11:20 pm by koeniel
Comments (6)  




Wednesday, May 23, 2007
Klakson

 

 

Melihat India tidak pernah habis-habisnya heran. Ini negeri yang punya nuklir, punya teknologi tinggi, punya banyak orang-orang yang masuk daftar orang terkaya sedunia, punya ilmuwan dan cendekiawan kelas dunia, tapi dalam banyak hal masih belum maju juga. Kondisi umumnya tidak jauh dari Indonesia, atau malah bisa dibilang lebih buruk. Bukannya bermaksud jahat berbahagia melihat orang lain susah, kadang jadi sedikit lega karena negeri kita jadi bukan yang paling jelek sedunia.

 

Yang paling gampang terlihat adalah ruwetnya lalu lintas di kota-kota besar India. Sebetulnya sama ruwetnya dengan Jakarta, sama macetnya. Di New Delhi begitu hujan, beberapa bagian jalan langsung tergenang, lalu langsung macet. Di bagian utara seperti di New Delhi memang hujannya jarang sih, tapi yang di pinggir pantai semacam Mumbai atau di lembah sungai macam Kolkatta sering terendam banjir. Seorang kolega pernah mengalami banjir besar di Mumbai. Saat itu dia harus menyelamatkan diri dari terjebak di tengah jalan, lalu mengarungi air banjir setinggi pinggang selama 3 jam. Seorang teman lain pernah terjebak di banjir besar di Kolkatta. Bukan cuma Jakarta yang bisa terendam air bah.

 

Sama seperti di Jakarta peraturan ada bukan untuk dipatuhi. Mobil dan motor serta auto-rickshaw alias bajaj bercampur dengan sepeda dan cycle rickshaw yang seperti becak memenuhi jalan. Semua saling berebut tidak mau kalah. Orang menyeberang sembarangan dan pejalan kaki berebutan jalan dengan kendaraan kerna trotoar dipakai untuk berjualan. Persis Jakarta! Sama dengan di Jakarta bunderan adalah tempat penuh kekacauan, karena tidak ada yang mau memberi jalan. Tidak seperti di Inggris, yang mewariskan banyak hal pada India, termasuk bunderan. Di Inggris (dan Singapura juga!) bunderan sama fungsinya dengan lampu lalu lintas, semua patuh peraturan siapa yang harus didahulukan dipatuhi dengan baik. Di India, seperti di Jakarta, lalu lintas jadi ruwet di bunderan, semua mau maju lalu jadi bundet di tengah jalan.

 

Yang sedikit berbeda adalah masalah klakson. Orang India hobi sekali bermain klakson. Dikira supir-supir di Jakarta sangat tidak sabaran dan terus-terusan bermain klakson? Hah, coba ke kota-kota di India. Kuping kita bisa pekak karena klakson. Din din din tet tet tet ngok ngok ngok diiiiiiiiiiin teeeeeeeeeeeeeet ngoooooook. Klakson ditekan-tekan dengan penuh emosi oleh semua pengendara.

 

Ada lagi yang tidak membuat iri di India. Bus kota. Di kota besar semacam New Delhi sih bus kotanya masih layaklah. Seperti bus-bus dan metromini di Jakarta. Tapi begitu keluar kota dan masuk ke desa-desa atau kota kecil semacam Dehradun, waduh. Yang banyak adalah bus-bus yang sudah tuaaaa, badannya sudah separuh karatan, posisinya miring-miring dan bunyinya parah seperti binatang sekarat. Tapi klaksonnya masih keras dan kuat. Diiiiiin.

 

Auto rickshaw yang kalau di Jakarta disebut bajaj adalah salah satu alat transportasi publik yang paling populer. Ukurannya sedikit lebih besar dari bajaj Jakarta, tapi sama bisingnya. Populer karena murah dan fleksibel, bisa diisi banyak sekali orang. Empat orang dalam satu bajaj itu jamak, umum.  Yang terbanyak pernah terlihat adalah sampai delapan orang! Ada yang harus duduk di pembatas antara penumpang dengan supir. Anak-anak kecil bisa diselipkan di pojok-pojok belakang. Saking populernya bahkan di jalan menuju perbukitan juga banyak dijumpai bajaj yang sedang terengah-engah merambat di jalan menuju puncak, dengan dilewati oleh mobil-mobil dan bus-bus yang tidak sabar mengklakson din din din tet tet tet!

 

 

Jarak Dehradun dengan New Delhi 240km (kira-kira seperti Semarang-Surabaya), waktu tempuhnya dengan mobil sekitar 6 jam, dengan macet dan kecepatan yang rendah sekali setiap memasuki desa-desa. Bukan cuma pasar seperti di Indonesia yang membikin macet, ada faktor lain yaitu sapi. Sapi di India sangat dihormati. Dagingnya tidak dimakan, walaupun susunya dipakai untuk berbagai keperluan masak-memasak - dibuat mentega, buttermilk, yoghurt dan paneer alias keju yang tekstur dan rasanya seperti tahu. Kotorannya dibuat lempengan-lempengan bundar, lalu dijemur kering dan dijadikan bahan bakar. Berhubung sapi dihormati maka mereka bebas berkeliaran di jalan-jalan dan seringkali membuat macet.

 

Kalau tidak ingin kena kemacetan dan tergoncang-goncang oleh jalanan yang tidak halus (sama seperti di Indonesia, jalannya banyak berlubang) atau terbisingkan oleh klakson maka bisa naik kereta. Walaupun ini tidak selalu berarti lebih cepat kereta juga sering sekali berhenti-berhenti jadi waktu tempuh sama saja, 6 jam juga. Malah bisa lebih.

 

Mungkin bisa dibilang India beruntung pernah dijajah Inggris yang mewariskan jalur-jalur kereta yang melintasi pelosok-pelosok negeri yang besar sekali ini. Sampai sekarang kereta api masih jadi tulang punggung transportasi antar daerah. Kereta dan gerbong-gerbongnya mirip juga dengan yang ada di Jawa. Ada yang nyaman semacam Sleeper AC, dengan kompartemen-kompartemen yang ada tempat tidurnya. Gerbong kelas satu AC, yang hampir seperti kereta eksekutif di Jawa juga nyaman. Kalau kereta ekonominya sih malah lebih bagus dan bersih di kampung halaman tanah Jawa! Toiletnya sama saja kotor dan baunya dengan di kampung halaman. Tapi stasiun-stasiunnya kalah bersih dengan stasiun-stasiun di Jawa, padahal desainnya dibuat seperti stasiun-stasiun di Inggris sana. Stasiun utama New Delhi seandainya bersih dan rapi serta tidak bau bisa kelihatan seperti stasiun Clapham Junction di dekat London sana.

 

Yang patut diacungi jempol adalah sistem pemesanan karcis kereta yang bahkan bisa dilakukan secara online. Websitenya bagus, lengkap informasinya dan berfungsi baik. Memang harus diakui dalam hal IT India cukup mumpuni. Bukan berarti orang kita tidak jagoan IT lho, tapi membuat sistem yang berjalan dengan baik bukan cuma butuh pemrogram saja.

 

Turun dari kereta di stasiun Nizamuddin di New Delhi rasanya seperti berada di stasiun Senen jaman dulu. Porter menyerbu kereta, mengangkati kadang setengah merebut koper dan tas. Ruwet, penuh dengan manusia mulai dari penumpang, porter, supir bajaj sampai pengemis dan gelandangan semua bercampur-baur. Di depan stasiun lebih kacau lagi lautan manusia yang tadinya bergerak lancar tiba-tiba tersendat karena orang berebutan naik bajaj, taksi, bus, becak dan mobil. Tidak ada yang parkir dengan teratur semua saling berebut dan ribut mengklakson sana-sini diiiiinn teeeeet ngoooook diiiiin teeeet ngoook.

 

Di lapangan terbang keadaan tidak lebih baik. Lobi di terminal keberangkatan penuh dengan mobil dan pengantar, koper-koper besar dan antrian-antrian panjang. Manusia, manusia di mana-mana, diiringi bunyi klakson din din din tet tet tet diiiiinn teeeeet ngoooook diiiiin teeeet ngoook. Pusing. Di dalam keadaan sama parahnya. Antrian panjang di mana-mana, ribut dan ramai, tapi loket-loket tempat check-in tidak ditandai dengan jelas. Orang berlari kesana kemari mencari di mana mereka harus mengantri.

 

Kekacauan juga terjadi di antrian pemeriksaan keamanan - ada yang protes, ada yang diperiksa dengan ketat, semua barangnya dibongkar. Setiap tas dan barang harus diberi cap lolos pemeriksaan dan setiap orang diperiksa satu persatu tidak peduli apakah dia menyebabkan alarm berbunyi atau tidak. Di belakang terlihat petugas dari Singapore Airlines menggigit-gigit jari dengan gugup. Antrian pemeriksaan masih panjang sementara pesawat seharusnya sudah berangkat setengah jam yang lalu.

 

Akhirnya kedamaian baru turun lagi setelah penumpang masuk kabin dan duduk manis menunggu pesawat lepas landas. Penumpang di sebelah bertanya, "Baru pertama ke Indiakah?" Setelah diiyakan dia tertawa lalu berkomentar, "Kelihatan." Kok? "Iya, anda kelihatan bingung dan setres sekali." Lalu diceritakannya bahwa dia bekerja di bagian promosi dan penjualan barang-barang elektronik dari Singapura. Kerjanya terbang-terbang ke berbagai negara di Asia. Ke manapun dia terbang, tidak peduli berapa lamanya biasanya dia cuma mendapat jatah tiket kelas ekonomi. Kecuali kalau ke India. Lho kok? Karena demikian kacaunya keadaan di lapangan-lapangan udara di India, sehingga butuh perlakuan istimewa kelas bisnis supaya para pegawai tidak stres dan bisa melewati perjalanan dengan lancar. Tidak heran. Terbayang di kepala bunyi-bunyi klakson din din din tet tet tet ngok ngok ngok diiiiiiiiiiin teeeeeeeeeeeeeet ngoooooook!!!!!

 

 



Posted at 03:09 pm by koeniel
Comments (3)  




Sunday, May 13, 2007
Di Tanah Kering Bebatuan

Ini bukan dongeng Indonesia, tapi yang teringat di kepala sepanjang perjalanan ini malah sebait lagu Indonesia, tepatnya lagu Ebiet G. Ade:

 

".....Tubuhku terguncang dihempas batu jalanan
hati tergetar menatap kering rerumputan
perjalanan ini seperti jadi saksi
gembala kecil menangis sedih....."

 

Kalau ditanya kota Dehradun itu seperti apa, jawabannya kira-kira seperti daerah pasar Jatinegara tapi gede banget. Sebetulnya Dehradun tidak sebesar dan sepadat Jakarta. Dehradun, ibu kota negara bagian Uttarakhand yang baru dibentuk 7 tahun yang lalu, hanyalah sebuah kota kecil, kalau dibanding dengan kota-kota lain di India yang besar-besar seperti Mumbai, Kolkatta, Delhi, Chennai, Hyderabad dsb. Letaknya di lembah di kaki Himalaya, 240km di utara New Delhi, pada ketinggian 640m di atas muka laut. Walaupun tidak sepadat Jakarta dan masih punya daerah pinggiran dan pedesaan yang cukup luas, Dehradun terasa seperti pasar Jatinegara yang besar karena kekumuhannya.

 

Sebetulnya kota ini terkenal sebagai kota dengan banyak sekolah bagus. Salah satunya adalah The Doon School, sekolah berasrama semodel pendidikan Inggris, tempat banyak politisi dan pembesar India bersekolah, termasuk Rajiv dan Sanjay Gandhi. Juga banyak sekali institut dan berbagai pusat penelitian di sini, termasuk sebuah kompleks militer, atau disebut cantonment, yang rapi, bersih dan cukup rimbun. Tapi entah kenapa kotanya tetap terlihat sangat kumuh.

 

Salah satu penyebabnya jelas iklim dan cuaca. India adalah sebuah subkontinen yang besar dan Dehradun letaknya tersembunyi di kaki pegunungan Himalaya, jauh dari laut. Kota kecil tetangganya, Mussoorie letaknya jauh lebih tinggi jadi masih dingin dan basah. Tidak Dehradun, iklimnya sangat kering. Hujan datang 2-3 bulan dalam setahun dalam jumlah cukup besar, tapi sisanya kering kerontang. Kalau bukan karena sungai-sungai yang bersumber dari lelehan salju dari Himalaya daerah ini bakal tidak bisa ditempati. Suhu bisa sampai 38 derajat Celcius. Sehari-hari panas terik membakar tanah coklat berdebu. Rumah, jalan, kendaraan, pakaian, wajah, semua coklat penuh debu.

 

Selain iklim, Dehradun jadi kumuh karena penduduknya. Sebetulnya di mana-mana di India kelihatannya masalahnya sama. Dehradun cuma salah satu potret kecil. Dengan populasi 1,1 milyar, sebagian besar tinggal di pedesaan di daerah gurun dan semi gurun, dengan tingkat kemiskinan yang tinggi, dengan tingkat buta huruf yang tinggi, India punya banyak masalah kekumuhan. Ternyata tingkat kemiskinan dan melek huruf di India lebih buruk dari di Indonesia! Padahal India punya bilyuner terbanyak di Asia dan pasar, toko, pusat-pusat bisnis kelihatan ramai. Ekonomi jelas bergerak. Tapi tidak semuanya, kerna banyak yang ketinggalan.

 

 

Satu yang kelihatannya jadi masalah besar di India adalah masalah kasta. Dari hari ke hari di koran selalu saja ada artikel, tulisan, laporan dan liputan tentang masalah kasta. Tapi sepertinya masalah itu begitu ruwet, mendarah daging dan tidak berakhir. Ini masalah yang menurut banyak tulisan harus diatasi karena efeknya buruk sekali memelihara kemiskinan tapi terlalu ruwet untuk diatasi dengan mudah. Sudah mendarah daging, karena sebenarnya kasta bukan hanya berlaku di masyarakat Hindu, tapi juga masih terasa di masyarakat Muslim dan Kristen di sana. Seorang pastor Indonesia yang pernah bertugas di India bercerita bahwa umat Gereja Katolik di salah satu paroki di India pernah protes karena pastor kepala parokinya diganti oleh seorang pastor dari kaum Dalit, alias kaum 'tak tersentuh', yang terendah dari semua kasta yang ada. Padahal umatnya dari kasta-kasta tinggi. Ha? Di mana ajaran Yesus kasih untuk sesama manusia? Tapi rupanya budaya itu sudah mendarah daging sedemikian rupa.

 

Sebetulnya praktek diskriminasi berdasarkan kasta sudah dihapuskan dalam konstitusi India dan India juga punya pembesar dan politisi dari kasta rendah. Tapi kalau menurut artikel-artikel di koran masalah kemiskinan dan rendahnya pendidikan masih ada sangkut pautnya juga dengan masalah kasta. Selalu mereka yang berasal dari 'backward castes' yang ketinggalan dalam masalah kesejahteraan, kesehatan dan pendidikan.

 

Kalau kita berjalan di pasar entah di Dehradun atau di Delhi, atau mungkin di kota-kota lainnya, apalagi kota super besar dan padat semacam Kolkatta atau Mumbai begitu banyak orang miskin, cacat, peminta-minta berkeleleran di jalan. Penyandang tuna ganda merambat-rambat di pinggir jalan. Betul-betul pemandangan yang menyakitkan. Dari kereta bisa terlihat begitu banyak gelandangan, anak-anak kecil yang mencari makan di tumpukan sampah. Mungkin sebagian besar dari mereka adalah kaum kasta rendah. Bahkan di daerah terkumuh di Jakarta tidak sampai begitu keadaannya.

 

Tidak heran Ibu Teresa menjadikan India tempat mengabdinya. Sentuhan yang diberikan Ibu Teresa sangat sederhana memberikan dignity, harga diri, pada kaum miskin dan Dalits. Memang kelihatannya itu yang pertama-tama sangat mereka butuhkan.

 

Singapore, 13 May 2007

 

 


Posted at 08:50 pm by koeniel
Comments (5)  




Friday, May 11, 2007
Marah

 

Hampir sebulan berurusan dengan si Bapak Tua menyebalkan aku jadi pandai mengenali subyek satu ini: marah. Sebaiknya kuterangkan dulu siapa si tua ini. Dia seorang driller tua asal Amerika yang memimpin proyek kami sekarang ini di India. Orangnya sombong dan snobbish, suka memandang rendah bangsa lain, di luar bangsa yang menurutnya terhebat di dunia, bangsanya sendiri, Amerika (yang kulit putih tentunya, bukan kulit berwarna).

 

Dia hobi sekali merendahkan bangsa India. Memang tidak di depan mereka langsung sih. Yang sering dilakukannya langsung di depan mereka adalah mengejek cara klien kami menjalankan bisnis minyak, mulai dari eksplorasi sampai pengeboran dan produksi. Maklum memang mereka punya standar sendiri yang sering beda dengan standar Internasional. Misalnya mereka pakai satuan metrik ton bukan barrel, dan meter kubik untuk gas, bukan kaki kubik.

 

Menurutku ini sih normal, ya ndak papa toh kalau mereka mau beda? Nyatanya di Amerika dan Inggris satuan Imperial yang dipakai sementara di daratan Eropa dan Asia satuan metrik. Orang menyetir di sebelah kiri jalan di Inggris, Australia dan sebagian besar Asia, dan di sebelah kanan jalan di Amerika, daratan Eropa dan Cina. Jadi tidak perlu mengejek toh? Malah membuat hidup jadi susah, karena klien jadi sebal dan enggan bekerja sama. Tidak si Bapak Tua, dia sering sekali mencibir cara kerja klien. Lha klien kan jadi kesal. Tadi salah seorang dari mereka mengeluh, "Duh orang itu sulit sekali dihadapi." Aku benar-benar bersimpati padanya.

 

Si Bapak Tua bolak-balik kesal soal orang-orang India yang keras kepala. Padahal sih menurutku mereka biasa-biasa saja. Siapa sih yang senang diaudit? Semua orang pasti bersikap defensif kalau sedang diaudit. Mau bangsa India kek, Cina, Thailand, Indonesia, atau Australia dan Eropa sama saja, pasti jadi defensif dan keras kepala kalau sedang diaudit. Pengalamanku menangani proyek audit cadangan minyak dan gas di berbagai perusahaan berhadapan dengan berbagai bangsa menunjukkan hal yang sama. Memang sih ada bedanya sedikit. Orang Eropa dan Australia banyak protes tapi gampang dikendalikan dengan argumentasi yang baik. Orang Indonesia dan Thailand biasanya lebih gampang dihadapi, mereka banyak tersenyum, walaupun mungkin di belakang sebal juga pada kami :)   Nah orang India dan Cina itu tidak seperti bangsa Asia Tenggara, mereka punya pendapat yang kuat dan tidak segan protes atau beda pendapat. Memang lebih susah dihadapi, tapi sebenarnya ya tidak jauh beda juga dengan klien-klien kami yang lain.

 

Makanya aku sebal sekali dengan si Bapak Tua ini. Kok senang sekali menghina bangsa lain, terutama negara dunia ketiga. Kalau sudah menyatakan "Third World Countries" nadanya penuh hinaan sekali. Ini tipikal komentar-komentarnya:

 

1. Dalam perjalanan ke kantor di Dehradun, kami lewat sebuah tembok yang di atasnya dipasangi pecahan kaca. Baru berpikir wah di Indonesia juga banyak ditemui model begini, tiba-tiba komentar sinisnya keluar, "Itu tuh ciri khas negara dunia ketiga. Simbol rasa tidak aman. Padahal di baliknya juga tidak ada yang layak dicuri."

 

2. Suatu hari jalanan macet karena ada sapi, yang di India diahormati, berjalan santai di tengah jalan. Katanya sinis, "Ciri khas dunia ketiga, tidak rasional, masak sapi dihormati!"  Lho piye toh orang ini? Apa dia nggak belajar sejarah? Sebelum bangsa Amerika kulit putih ada, orang-orang yang melahirkan agama Hindu sudah punya budaya tinggi.

 

3. Kami sedang ngobrol-ngobrol tentang go-go bar di Bangkok. Katanya, "Ah, aku sih sudah tidak tertarik lagi sama subyek itu. Sudah terlalu lama melanglang buana di negara dunia ketiga yang penuh tempat-tempat murahan begitu."  Lho kayak di negaranya nggak ada penari erotis saja!

 

4. Buat pegawai perusahaan minyak India dikirim ke negara bagian Assam itu seperti dihukum, karena dikirim ke bagian India yang termasuk paling tidak maju. Katanya tentang ini, "Padahal orang-orang ini hidupnya di tempat kumuh dan menjijikkan kayak begini. Apa bedanya dengan di Assam?"

 

Komentar-komentar begini kan membuat naik darah toh? Walaupun hinaan bukan ditujukan kepada bangsa Indonesia, rasa solidaritas kepada teman-teman India sebagai sesama penduduk negara berkembang dan sebagai sesama manusia langsung membuatku kepingin marah.

 

Biasanya begitu komentar-komentarnya keluar aku langsung marah. Kalau dilihat dalam gerak lambat prosesnya begini: tiba-tiba aku seperti tersengat, lalu kepala jadi panas, mbun-mbun mungkin bisa kelihatan berasap, dan otak spontan membentuk rangkaian kata-kata panas, yang siap diluncurkan mulut, sembari tangan gemetar terkepal, mata mengerenyit. Kata kolegaku kalau aku sedang begini pandanganku kejam sekali, seperti bisa membunuh. Kata-kata yang terbentuk biasanya bernada melawan, pokoknya kontra. Supaya membuat dia sebal juga. Beberapa kali kata-kata sinis semacam itu tak tertahan keluar dari mulutku. Pernah yang keluar kata-kata kasar, keras.

 

Aku tahu betul ini bukan reaksi yang baik. Karena ini berarti aku jatuh ke perangkapnya, jatuh ke emosi negatif marah. Tapi mengerem kemarahan memang susah. Untungnya setelah beberapa lama tiap hari hampir terpancing, aku sudah bisa mengenali tanda-tanda kemarahan seperti di atas. Biasanya lalu kucoba menarik nafas panjang, sambil berhitung satu, dua, tiga, dan seterusnya, sampai kemarahan hilang.

 

Setelah beberapa kali diam-diam mempraktekkan cara ini salah seorang kolega tim berkomentar, "Bagus Nil, memang harus sabar. Nggak ada gunanya memperhatikan orang gila."  Lho emang kelihatan? Jelas kelihatan, katanya. Katanya mukaku biasanya langsung kelihatan judes dan jutek sekali, tapi lalu otot-otot yang mengencang itu berangsur mengendur, bibir tidak lagi tertarik kencang dan tanganku jadi santai, tidak lagi mengepal.

 

Hehehe ternyata lucu juga yah, seluruh emosiku bisa tertumpah di wajah. Memang bukan pemain poker. Tapi nggak apa-apalah. Yang penting sudah sempat belajar satu langkah maju mengendalikan kemarahan.

 

Dehradun, 11 Mei 2007

 

 


Posted at 09:43 am by koeniel
Comments (8)  




Thursday, May 10, 2007
Belajar Sabar

Semenjak bekerja di perusahaan konsultan ini aku memang belajar banyak. Di setiap proyek pasti banyak ilmu baru yang dipelajari, karena proyek-proyek di sini sangat terpadu antar bidang sifatnya, juga karena kolegaku semua jauh lebih senior rata-rata mereka sudah punya lebih dari 20 tahun pengalaman di industri minyak.

 

Tapi di proyek kali ini rasanya lebih banyak EQ skill yang kupelajari ketimbang kemampuan teknis. Pekerjaan yang kami lakukan kali ini di India biasa-biasa saja, sudah kulakukan puluhan kali, jadi tidak banyak ilmu baru kupelajari. Tapi kali ini ada yang istimewa memperdalam Emotional Intelligence. Alasannya? Anggota tim yang 5 orang itu 3 di antaranya bukan 'team player' yang baik, dan 1 di antaranya yang kebetulan adalah pemimpin proyek adalah orang yang sangat sulit dihadapi. Terpaksa belajar sabar.

 

Pemimpin proyek kali ini adalah seorang lelaki tua driller berbangsa Amerika asal Texas. Orangnya benar-benar sulit dan snobbish. Sombongnya minta ampun. Dia bisa dengan santai pamer soal mobil sport miliknya, mobil SUV milik istrinya dan tv layar datar mereka yang  sangat besar serta semua peralatan digital di rumah mereka yang besar dan mewah di Texas sana. Waktu kukomentari dengan sinis soal global warming dia hanya tertawa meremehkan, malah sibuk menghina-hina Al Gore yang banyak berkampanye soal lingkungan. Jelas idolanya adalah si bodoh George W Bush.

 

Sebetulnya tidak masalah sih berhadapan dengan orang sombong semacam ini. Para kolegaku memang kebanyakan orang-orang yang sangat senior dan sudah diakui sangat ahli di bidangnya sehingga kelemahan mereka biasanya diterima saja oleh lingkungan sekitarnya. Ada yang sombong, ada yang galak, ada yang suka bercanda tidak lucu, ada yang tidak pernah mau mendengarkan orang lain, ada yang sangat tidak sabar. Pokoknya antik-antik. Jadi yang satu ini tidak aneh.

 

Cuma masalahnya, dia itu suka sekali menghina negara-negara 'Dunia Ketiga'. Kalau sudah membicarakan 'Third World Countries' terutama India, wah, nadanya sangat-sangat menyakitkan. Walaupun hinaannya semua ditujukan ke negara dan bangsa India atau kadang-kadang Cina, rasanya sakit juga mendengarnya. Soalnya mau tidak mau kan Indonesia termasuk ke jajaran 'developing countries' juga. Ini istilah lebih halus dan politically correct dari istilah 'Third World Countries', tapi dia keras kepala tidak pernah mau memakainya. Hobi sekali dia membanding-bandingkan 'First World' dan 'Third World'.

 

Herannya, orang satu ini sudah puluhan tahun tinggal di luar negeri pujaannya, Amerika Serikat. Setengah umurnya mungkin habis di negara-negara di luar negara-negara maju. Dan dia cukup banyak punya proyek di India. Kok bisa begitu menghinanya. Biasanya orang yang banyak bepergian seperti kebanyakan kolegaku yang lain pikirannya lebih terbuka, sudah biasa menerima budaya dan kebiasaan-kebiasaan bangsa lain. Tapi yang satu ini kok bisa tetap berpikiran picik dan tidak bisa menghargai dan menghormati budaya orang lain.

 

Seperti kaset rusak berulang-ulang diceritakannya anekdot-anekdot sinis tentang negara-negara berkembang. Rasanya sampai capek sekali mendengarnya dan sering aku ingin marah dan menonjok kepalanya. Kebetulan aku memang bertemperamen tinggi. Tapi kan tidak profesional sekali kalau berkelahi, atau bahkan hanya bertengkar mulutpun, dengan kolega dan rekan satu tim. Apalagi kami sedang bekerja di lingkungan klien. Bisa merusak kredibilitas perusahaan dan kami bisa kehilangan proyek. Jadi bolak-balik kutelan kemarahan, kusabar-sabarkan diri. Makanya kubilang proyek ini penuh dengan pelajaran emotional skill bukan technical skill buatku.

 

Tapi aku memang bukan murid yang baik. Sudah beberapa hari ini kupasang muka sebal setiap kali mendengar ceramahnya tentang keburukan bangsa India dan negara berkembang lain, serta kehebatan Maha Amerikanya. Huh kalau begini tidak perlu teroris, aku juga bisa dengan mudah membunuhnya. Sebetulnya aku sudah kepingin melempar piring ke mukanya, tapi kucoba praktekkan nasehat kekasihku: sabar, tarik nafas panjang, bayangkan hal-hal yang indah dan tulikan telinga terhadap suaranya. Yang paling kuingat adalah nasehat terakhirnya, "Don't get mad, get even."

 

Dan pagi itu kudapati kesempatan itu. Si driller Amerika tua bangka itu sedang sibuk menghina mutu pendidikan di India. Katanya bagaimana sistem pendidikan bisa bagus, karena para profesor di India keluar negeripun tidak pernah. Hahaha aku langsung tertawa terbahak-bahak. "Bukannya orang Amerika yang terkenal tidak pernah pergi ke luar negeri dan tidak pernah merasa perlu tahu tentang bangsa lain? Waktu aku ke sana, banyak sekali orang-orang yang tidak tahu letak Indonesia. Boro-boro Indonesia, Singapura saja bisa tidak tahu. Pelajaran geografinya gimana tuh? Lha kalo orang India walopun miskin di mana-mana di pojok dunia mereka ada." Mukanya langsung merah, sempat terbata-bata. Sayang tidak ada orang lain di situ, jadi tidak ada yang jadi saksi melihat dia dipermalukan. Tapi tidak lama lalu aji-ajiannya keluar lagi, "Yah tapi walaupun banyak orang Amerika belum pernah keluar negeri tapi kan sistem pendidikannya jauh lebih baik. Beda dong dengan negara dunia ketiga!"

 

Ah, ya sudahlah, kalau yang sudah sering keluar negeri saja masih berpikiran sempit begini, mungkin kita dan dunia tidak butuh mereka. Aku mencoba belajar sabar dan mengantongi tinjuku. Anggap ini kursus EQ. Dan EQ itu penting loh. Coba saja lihat berapa banyak orang yang kemampuan emosionalnya kurang lalu menjadi pemurung dan menjadi pembunuh, semacam anak-anak muda yang menembaki teman kuliah atau teman sekolahnya di Amerika itu. Jadi kuanggap saja ini pelajaran yang sangat berharga, menghadapi manusia sulit tanpa harus terpancing menjadi emosi juga.

 

 

Dehradun, 9 Mei 2007

 


Posted at 02:12 am by koeniel
Comments (4)  




Monday, April 30, 2007
Untuk Pak Ton

 

Namanya Wartono Rahardjo, tapi kami semua memanggilnya Pak Ton. Kulitnya hitam, perawakannya 'subur' tapi walaupun begitu beliau aktiif sekali, senang sekali field trip dan pergi ke lapangan. Beliau dosen di Jurusan Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada. Beliau dulu dosen pembimbingku. Banyak betul bantuan Pak Ton buatku. Maka waktu ada permintaan untuk menulis sesuatu tentang dan untuk beliau, buru-buru kupenuhi. Rupanya Pak Ton sebentar lagi pensiun, purna tugas. Dan koleganya serta bekas-bekas muridnya ingin membuat sebuah buku kenangan tentang dan untuk beliau, salah satu isinya adalah semacam yang kutulis berikut ini.....

----------------

Manusia itu perlu belajar mengenali dirinya sendiri; dan hampir selalu
kita belajar mengenali diri sendiri dari orang-orang yang berhubungan
dengan kita. Nah, dalam hidupku, dalam prosesku mengenali diri
sendiri, Pak Ton adalah salah satu dari orang-orang seperti itu.

Karena beliau adalah dosen favoritku, maka tanpa berpikir dua kali aku
mohon beliau untuk jadi dosen pembimbing. Padahal orang-orang sudah
bilang - jadi anak bimbingan Pak Ton tu nggak gampang loh! Harus kerja
keras. Ah ya tidak apa-apalah. Aku sih tidak takut untuk kerja keras.
Begitu tadinya pikirku.

Ternyata setelah mulai menjalankan Tugas Akhir, terasa betul tidak
gampangnya dan harus kerja kerasnya. Memang pemetaan lapangan bukan
'forte'ku. Ada orang-orang yang bagus sekali dalam pekerjaan lapangan
mata tajam 'membaca' singkapan. Sementara aku bukan yang semodel
begitu. Di lapangannya sih suka tapi kalau di lapangan sambil
bekerja? Wah! Begitulah maka pemetaanku jadi tersendat-sendat. Setelah
pemetaan selesai, rasanya sulit sekali untuk menganalisis data dan
mensintesiskannya jadi sebuah peta geologi dengan kisah geologi yang
lengkap yang cukup memuaskan beliau. Baru satu bab diajukan,
coretan-coretan sudah banyak sekali. Itu sih tidak apa-apa, karena
coretan-coretan beliau betul-betul membantu. Tapi
pertanyaan-pertanyaan beliau yang tak bisa kujawab itu?

Dan selanjutnya aku tersandung oleh kesulitanku sendiri dalam
menganalisis data dan membangun sejarah geologi. Rasanya tidak ada
fakta yang 'sambung', tidak ada yang bisa dirangkai. Buntu. Sampai
putus asa, takut, sebal dan kesal pada segala yang berhubungan dengan
TA, dan aku melarikan diri. Sibuk naik gunung atau mancing di tebing
Wonosari. Berbulan-bulan semua dokumen TA tersimpan di dalam lemari,
tidak tersentuh. Kalau ada yang bertanya tentang TA aku menutup
kuping.

Sampai tiba-tiba suatu hari ada pesan: 'Nil, lu dicari sama Pak Ton.
Penting banget.' Waduh! Setelah memberani-beranikan diri akhirnya
sampai juga ke depan kantor beliau. Tapi beliau tidak ada. Hanya ada
kertas di depan pintunya. Isinya? Ultimatum. Kalau aku tidak
menyerahkan draft lengkap dalam satu bulan, aku akan dicoret dari
daftar mahasiswa bimbingan beliau. Gedubrak!

Ketakutan akan ancaman Pak Ton tiba-tiba mengalahkan ketakutanku akan
TA. Dalam satu bulan semua pekerjaan yang kutinggalkan selama hampir
setahun kuselesaikan. Satu hari sebelum hari ultimatum berakhir draft
lengkap kubawa pada beliau. Dua bulan kemudian aku maju kolokium, lalu
sebulan kemudian maju ujian.

Waktu kemudian aku minta referensi untuk mencari kerja Pak Ton sambil
tertawa bertanya apa aku benar-benar mau referensi dari beliau, karena
apa yang akan beliau tuliskan di situ adalah yang sebenarnya, yang
sejujurnya. Waduh, apa ya maksud beliau? Ternyata setelah menuliskan
kekuatan-kekuatanku, di bagian bawah Pak Ton menyatakan bahwa walaupun
pekerja keras, aku butuh cambukan dan tekanan untuk bisa berprestasi
dengan cemerlang. Tidak ingat lagi kalimat tepatnya bagaimana, tapi
kira-kira begitu. Hmmm..... aku pulang sambil bertanya-tanya dalam
hati.

Sekarang setelah hampir sepuluh tahun bekerja aku jadi tahu betul
maksud Pak Ton, dan pengamatannya betul-betul tepat. Aku memang butuh
tekanan, butuh tantangan, butuh tenggat waktu, butuh stres, singkatnya
butuh adrenalin untuk bisa menelurkan hasil yang baik. Karena itulah
aku ada di posisiku sekarang, karena pekerjaanku memberikan itu semua
sehingga aku bisa bekerja dengan baik. Kadang saat sedang sibuk
mengerjakan laporan untuk klien aku tersenyum-senyum ingat Pak Ton.
Betapa betulnya beliau. Sebelum aku berhasil mengenal diriku sendiri
dan pola kerjaku, Pak Ton sudah tahu lebih dulu.

----------------

Sebetulnya tulisan yang diminta cuma 200-300 kata, atau maksimal 500 kata. Tapi tulisanku di atas 520 kata. memang aku tidak pernah bisa menulis singkat, kecuali kalau terpaksa. Beberapa kali menulis untuk majalah juga begitu, si editor harus memotong tulisanu habis-habisan :)   Tapi ini juga kelemahan yang sudah dikenali Pak Ton. Saat memeriksa pekerjaanku dulu beliau bolak-balik mengeluh bahwa aku ini bukan menulis tesis tapi menulis novel :)

Singapura, 30 April 2007


 


Posted at 10:59 am by koeniel
Comments (6)  




Previous Page Next Page


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • 2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON