Entry: Anti Stiletto Thursday, March 13, 2008



 
Selama ini saya selalu kagum pada perempuan-perempuan muda Singapura. Bukan, bukan karena kebanyakan dari mereka langsing-langsing (sepertinya hampir 90% perempuan muda Singapura tidak punya masalah kelebihan berat badan). Bukan juga kerna mereka kelihatan trendi-trendi dan bergaya. Saya kagum pada keahlian mereka di dalam MRT.

MRT alias Mass Rapid Transport adalah kereta pengangkut massa yang jadi tulang punggung transport publik di Singapura. Kereta ini yang saya pakai setiap hari pagi dan sore ke dan dari kantor. Juga ke mana-mana di negri ini. Ini mode transportasi pujaan saya. Setelah bertahun-tahun mengalami menyetir mobil berjam-jam di kemacetan Jakarta, MRT buat saya seperti limusin. Walaupun saya tinggal jauh di luar kota, kantor di tengah kota bisa saya capai dalam waktu 30 menit. Tidak perlu stres kena macet!

Tapi walaupun tingkat kenyamanannya sangat jauh di atas mikrolet dan metro mini Jakarta, bahkan lumayan jauh di atas Trans Jakarta alias busway (yang masih kena macet), bukan berarti MRT sepenuhnya nyaman. Memang gerbong-gerbongnya sangat bersih dan ACnya lumayan dingin, tapi karena ini alat transportasi paling utama, saat-saat jam sibuk penuhnya bisa seperti kaleng sarden. Lalu kalau kondekturnya belum ahli, laju kereta seperti tersendal-sendal, saat mengerem kita bisa terpental-pental.

Nah di saat-saat seperti inilah kekaguman saya pada perempuan-perempuan muda Singapura meningkat. Mereka ini bisa berdandan rapi ala pegawai kantor, chic, trendi, wangi, sembari menggembol tas bermerek di tangannya, dengan sepatu cantik berhak tipis tinggi alias stiletto, lalu berdiri di dalam gerbong MRT yang penuh sesak, tanpa berpegangan. Tangannya malah dipakai entah untuk memegang koran atau buku atau PSP. Mereka lalu sibuk membaca atau main game, sembari kupingnya disumpal earphone yang mengalirkan musik dari MP3 player. Saat kereta tersendal-sendal dan penumpang lain terpental-pental, perempuan-perempuan chic ini dengan anggunnya memindah-mindahkan titik berat badan, sehingga tidak perlu terpental-pental, masih tanpa berpegangan. Rasanya inilah 'the ultimate MRT passenger'. Saya ingin sekali bisa seanggun mereka.

Tapi hari ini pengidolaan saya berakhir. Impian saya hancur. Ternyata mereka tidak sesempurna yang saya kira. Pagi ini seperti biasa saya naik kereta yang sudah lumayan penuh, sedikit mendesak-desakkan badan saya di antara penumpang yang sebagian berbau wangi dan sebagian berbau kari. Di depan saya ada salah satu perempuan anggun dengan keahlian naik MRT yang kelihatannya sudah tingkat tinggi. Bajunya keren, tasnya cantik, dan sepatunya... amboi, haknya tinggi dan tipis sekali. Dia sibuk membaca tabloid, tanpa berpegangan.

Tapi tiba-tiba, saat kereta berhenti terhentak si sebuah stasiun dan penumpang terpental-pental, perempuan ini ikut terpental! Dan sedihnya, hak tipis tinggi sepatu merah mengkilatnya, yang seperti pisau tajamnya itu, mendarat langsung di kaki saya yang cuma berbungkus sepatu sandal butut. Aaaarrrggggggggh. Mulut saya menganga, mata terpejam lalu saya meringis-ringis kesakitan sementara kaki saya, di tempat hak sepatu setajam pisau tadi menancap, berdarah. Kulitnya tersobek, dan darah merembes keluar, duuuuh perihnya!

Dan apa yang dilakukan si perempuan yang tadinya saya kagumi itu? Dia cuma menengok sebentar, sama sekali tidak melontarkan sepatahpun kata maaf, apalagi merasa kasihan pada perempuan agak gemuk berkaki besar dan berpakaian asal-asalan dengan tas ransel di punggungnya, yang sedang membungkuk-bungkuk kesakitan gara-gara stiletto-nya ini. Lalu dengan anggunnya dia menyibakkan rambutnya dan melangkah anggun keluar kereta. Kurang ajaaaaaarrrr!

Saat itu juga pupuslah kekaguman saya pada perempuan-perempuan itu. Kepingin saya mengejar dia lalu menjambak rambutnya yang dicat setengah pirang itu. Tapi saya sadar itu bukan hal yang patut dilakukan. Saya mungkin harus memahami bahwa para dewi itu juga manusia, sesekali mereka bisa melakukan kesalahan. Tapi kenapa harus pada saat memakai stilettoooooo????? Duh sebalnya. Apa saya harus memakai steel-toed safety shoes yang dulu saya pakai waktu kerja di anjungan pemboran minyak, supaya kaki saya selamat? Menurut saya sih sepatu stiletto harusnya dilarang di MRT! Huh!
 

 

   11 comments

Name
September 29, 2012   07:08 AM PDT
 
Christmas is probably the most special day of the year for children. One thing that makes it special is the popular tradition of Santa Claus. ,022456,http://my-musings.blogdrive.com/archive/274.html
karen millen 2012
June 17, 2012   04:02 PM PDT
 
Thanks for this information. This is very eye-opening. It seems as though Slenda is not so splendid!,217311,http://my-musings.blogdrive.com/archive/274.html
Discount Pandora Store
April 23, 2012   09:57 PM PDT
 
This post is awesome,ecpecting the newest!!!LIKE IT LIKE IT LIKE IT!!!,451359,http://my-musings.blogdrive.com/archive/274.html
Timberland Boot Shop
April 10, 2012   02:14 AM PDT
 
I'd be interested in hearing. The TOS seems rather clear that it is not unless expressly approved by Amazon. I guess if the library got it in writing then they would be ok. ,573268,http://my-musings.blogdrive.com/archive/274.html
Melly
October 8, 2008   01:09 PM PDT
 
Aduh....lucu banget deh cara kamu menceritakannya sampai - sampai aku tertawa trus sambil membacanya. Pasti, sakit banget berbaur rasa kesal yah.

your post makes me laugh :)
mpokb
April 22, 2008   12:41 PM PDT
 
duh, kalo gitu mending jauh2 deh sama yg pake sepatu tinggi di angkutan umum.. soalnya bisa2 gw nggak sesabar non koeniel.. huhuhu..
tuti
April 14, 2008   07:43 PM PDT
 
wah mbak nila sabar bgt ya..kirim artikelnya ke stomp mbak ;D
Lili
March 24, 2008   05:50 PM PDT
 
persis iklan ponds di Indo. Bikin iklannyapun di MRT Sing. dan wanitanyapun jago2 dandan pas lagi di MRT... tapi yaa ndak ada yg sepatunya melayang..he.he..
Udah sembuh belum? Juni aku ke Sing...bisa ketemuan?
Hannyta
March 24, 2008   04:50 PM PDT
 
Kalau aku jadi mbak nila, pas perempuan itu melengos, bisa kutarik tangannya dan kuomeli plus kusuruh minta maaf! Kalau perlu, sekalian minta plester atau betadine! Emosi benerrrr...

Anyway, sing sabar yah, hehehe :)
wiwik wibowo
March 19, 2008   05:19 PM PDT
 
Memang org2 singapore cenderung kurang beradap kali ya...mungkin karena kehidupan yg cepat , padahal bangsa timur seharusnya lebih halus dan sopan. Malahan banyak sekarang orang barat yg sopan2 dan lebih peka dan ringan tangan......well , you cant always win !
aroengbinang
March 16, 2008   04:24 PM PDT
 
wah saya jadi mikir buruk, bahwa perempuan2 cantik dengan dandanan seperti itu, membuang banyak uang untuk mempercantik diri, cenderung egois dan kurang sensi pada penderitaan orang lain kali ya.... pengalaman memang sangat efektif untuk merubah cara pandang..., salam.

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments