Entry: Cinta jilid 2 Monday, September 15, 2008



Cincin berlian mungil di jari manis kiriku ini tidak diberikan dalam suasana romantis seperti di film-film. Tidak ada cowok tiba-tiba berlutut di depanku lalu membuka kotak kecil berisi cincin sembari menanyakan apa aku mau menikah dengannya. Juga tidak ada candle light dinner, bunga mawar, perjalanan romantis, malam berbintang, kunjungan kejutan atau pernyataan cinta bertubi-tubi. Tapi cincin ini diberikan dengan cinta. Itu aku yakin.

 

Cincin ini diberikan padaku saat diam-diam ada badai yang mencoba muncul di keluargaku tahun lalu. Saat aku kuatir betul akan adik-adikku, yang keputusan-keputusannya, sama sepertiku mungkin, kontroversial kalau dihadapkan dengan nilai-nilai tradisional Bapak dan Ibu. Aku jadi kuatir sekali akan Bapak-Ibuku. Ibuku sudah beberapa waktu emosinya naik turun. Kalau sedang kambuh beliau bisa marah-marah tidak keruan, atau menangis sendirian dan berbicara yang tidak-tidak. Aku tahu Ibu ingin sekali aku segera menikah. Tapi ibu juga susah sekali memikirkan adik-adikku, ingin mereka mendapatkan pasangan yang ideal menurutnya. Padahal pasangan-pasangan adik-adikku sama sekali bukan standard ideal Ibu. Setelah mendengar pengakuan adik-adikku aku jadi pusing. Aku tahu ini bakal membuat keadaan Ibu lebih parah. Aku jadi setres, sering melamun dan tidak bisa tidur bermalam-malam.

 

Lalu lelaki belahan jiwaku itu datang dan membawaku ke toko perhiasan. "Aku tidak tau apa-apa tentang perhiasan perempuan," katanya. "Jadi tolong pilih sendiri cincin pertunangan kita."  Ha? Padahal saat itu kami masih belum tau kapan akan melangkah ke tahap berikutnya dalam hubungan kami. Aku sendiri waktu itu belum yakin apakah kami akan melangkah lebih jauh, atau bagaimana, dengan segala halangan yang ada. Lagipula sebelum-sebelumnya dia begitu tidak senang dengan tekanan sosial yang datang dari kanan-kiri memaksa kami menikah di saat kami belum siap.

 

Tapi dia tau dengan memberikan cincin ini padaku, sebagai tanda keseriusannya, dia bisa sedikit menghibur Bapak-Ibuku yang begitu kuatir akan anak-anaknya. Setidaknya kalau kami berdua terlihat serius dan siap melangkah lebih jauh, beban Bapak-Ibu sedikit terkurangi.

 

Sebetulnya dia tidak perlu melakukan itu semua. Tapi katanya dia mau jadi bagian dari keluargaku, walaupun keluargaku cukup eksentrik dan sedikit dysfunctional seperti The Addams Family. Makanya aku yakin, walaupun tidak diberikan dalam suasana romantis seperti di film-film, cincin berlian mungil di jari manis kiriku ini diberikan dengan penuh cinta.  

 

 

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments