Entry: Cinta jilid 3 Tuesday, September 16, 2008



Waktu kubawa kekasihku pada Bapakku beliau menarik nafas panjang. Lalu diterjangnya kekasihku dengan segala macam pertanyaan yang langsung, tegas. Apa niatmu  terhadap anakku. Siapa kamu, bagaimana latar belakangmu dan berbagai pertanyaan lain yang sebetulnya beliau sudah tau jawabannya. Belakangan beliau minta maaf, katanya beliau tidak ingin kasar, mungkin masalah keterbatasan berbahasa. Pada intinya Bapak tidak ingin menyakiti atau menakuti, beliau hanya ingin memastikan aku akan bahagia.

 

Kutanya kekasihku apa dia tersinggung. Dia tertawa. Tidak, katanya. Hanya kaget. Menurut kursus 'budaya Indonesia' yang pernah diikutinya, orang Jawa kalau berbicara berputar-putar. Seperti Pak Tarjo, supirnya yang tidak pernah bisa bilang ya atau tidak sehingga kami selalu harus menebak-nebak apa dia sebetulnya sedang berkata 'ya' atau malah sedang berusaha menyampaikan 'tidak' dengan jawabannya yang panjang-panjang itu. Tapi Bapakku betul-betul menembaknya dengan langsung, lurus, tegas, tepat, tanpa tedeng aling-aling. Tidak tipikal Jawa. Tapi kekasihku merasa itu lebih baik, lebih mudah dihadapi.

 

Lagipula dia kagum sekali pada usaha Bapak melindungiku. Dia pikir Bapak pasti mencintaiku betul-betul sehingga beliau juga mau memastikan kekasihku juga mencintaiku dan bakal bisa membahagiakanku. Menurutnya dia bisa banyak belajar dari Bapak. Lalu dia tertawa dan berkata sudah untung dia cuma ditembaki dengan pertanyaan, bukan dilempar dengan tombak. Memang Bapak punya sebuah tombak tua, yang sering jadi bahan guyonan kami - bahwa kalau dia tidak segera melamarku, Bapak akan melemparinya dengan tombak itu. Tapi hari itu tombak yang biasanya ada di ruang tamu tidak ada lagi di situ. Ternyata tombak itu ada di kamarku. Aku jadi tersenyum-senyum sendiri, apa ya maksud Bapakku :)

 

Beberapa hari kemudian sebelum aku kembali ke Singapura Bapak memanggilku, lalu bertanya, apa aku yakin kekasihku benar-benar mencintaiku, apakah aku benar-benar mencintainya, apa aku bakal bahagia bersamanya dan apa aku sudah siap dengan segala halangan dan kesulitan.

 

Kujelaskan bahwa aku yakin benar-benar mencintai yang satu ini karena kami sudah melewati banyak badai bersama, dan nyatanya bukan makin berkurang, rasa itu semakin dalam. "Kayak di lagu-lagu pop itu loh pak," kataku cengengesan. Tapi Bapak tidak ikut tertawa.

 

Maka kulanjutkan lagi dengan serius. Aku tahu dia mencintaiku karena dikejarnya aku kemana-mana. Ditinggalkannya karir dan kehidupannya di tempat kami dulu pertama bertemu, di Pakistan, lalu dicarinya pekerjaan di Indonesia, supaya dekat denganku. Waktu aku 'lari' ke Singapura, dicarinya alasan-alasan supaya sering bisa berkunjung ke sana. Aku tahu dia mencintai aku karena dia mendukung ambisi-ambisiku, karena dia membiarkanku berkembang. Dia membiarkan aku terbang dan berlayar, dan karenanya aku selalu ingin kembali padanya.

 

Aku tahu kami saling mencintai karena kami sudah saling tahu kelemahan masing-masing, tapi tidak ingin saling merubah. Dengan pacar-pacarku yang dulu beda sekali - banyak hal yang tidak kusenangi di diri mereka yang ingin kuubah, begitu sebaliknya dengan mereka. Dengan yang satu ini ada juga hal-hal yang tidak kusenangi, tapi kuterima dia apa adanya dengan segala kebiasaan-kebiasaannya. Demikian sebaliknya. Dengan pacar-pacarku dulu juga seringkali aku mendahulukan ambisi dan keinginanku. Tapi tidak dengan yang ini. Rasanya hubungan kami lebih 'laid back', tidak ambisius. Dan dalam banyak hal kami klop, komunikasi lancar. Kami tidak saling menyimpan rahasia, tidak ada saling jaim dan jaga gengsi. Kami saling curhat. Kami kekasih sekaligus sahabat. Bukan berarti kami tidak pernah berantem.Tapi persoalan selalu bisa selesai dengan komunikasi.

 

Bapak bertanya, bagaimana dengan hubungan kami yang sebagian besar, bahkan hampir seluruhnya dijalani dengan jarak jauh. Apakah aku tidak pernah kuatir dia tidak setia dan apakah aku tidak akan tergoda (eh, Bapak memang betul-betul mengenali aku dan masa laluku). Kujawab bahwa aku sekarang sudah jauh lebih dewasa dari dulu, tidak lagi suka mencari 'thrill' tapi sudah merasa ingin mapan. Lalu orang sering kuatir karena Jakarta tempat penuh godaan terutama buat lelaki-lelaki asing seperti kekasihku. Tapi aku percaya padanya. Kami selalu berhubungan lewat telepon, email dan instant messenger. Hampir setiap saat kami selalu berkomunikasi. Lalu dia juga cinta sekali pada kedua anjing kami Chocolate dan Coffee. Dia selalu memilih untuk pulang dan bermain dengan mereka ketimbang pergi ke bar. Dan yang penting di antara kami ada rasa saling percaya.

 

Lalu Bapak bertanya lagi, bagaimana dengan masa lalunya dan apakah aku sudah siap menghadapinya. Kuakui ini memang termasuk masalah paling berat yang kuhadapi, tapi ini sudah pernah kuhadapi berkali-kali dan selama ini bisa lewat. Bukan hal yang gampang, tapi rasanya masalah-masalah itu melatih aku jadi lebih dewasa, tidak seegois dulu, melatihku jadi lebih rendah hati, lebih bisa mengalah.

 

Dan itu semua bisa kulewati juga lagi-lagi karena aku sudah menerima dia apa adanya. Tidak ada ambisi atau tuntutan besar yang kuberikan padanya. Kuterima dia dengan segala beban yang dipanggulnya. Lagipula aku juga punya masa lalu yang harus diterimanya. Setan besar bernama cemburu bukan tidak pernah mampir. Tapi untungnya kami sudah dewasa sekarang, sudah bisa mengendalikan diri dengan baik. Aku percaya padanya dan dia percaya padaku.

 

Bapak bertanya apa aku sudah siap menghadapi kesulitan perkawinan antar bangsa. Kujawab sudah. Kukatakan kesulitan bukan akan datang dari kami, karena aku sudah biasa hidup di tengah budaya-budaya barat dan dia sudah biasa hidup di tengah budaya-budaya timur.

 

Kesulitan selama ini datang dan masih akan terus datang dari lingkungan, yang masih belum terbiasa dengan pasangan antar bangsa. Misalnya, aku sering sekali menerima tatapan atau komentar yang merendahkan karena mereka mengira aku ini perempuan nakal yang mencari uang dengan menghibur orang asing hanya karena kami berjalan bergandengan tangan. "Itulah, salah satu hal yang membuat Bapak kuatir," kata Bapakku. Kujawab bahwa apapun yang kita lakukan selalu akan ada orang yang berpandangan berbeda dengan kita. Kalau setiap kali kita harus menuruti apa kata semua orang kita akan mandeg. Kukatakan kami memilih untuk cuek dengan pandangan stereotip orang lain. Memang susah dan sering menyakitkan, tapi ya biarlah orang lain tenggelam dalam kebodohan mereka, begitu kujawab.

 

Lalu Bapak mengeluarkan sebuah buku besar bersampul kuning. Ternyata isinya panduan dan segala macam informasi mengenai perkawinan antar bangsa, yang dikeluarkan sebuah organisasi bernama Srikandi, kumpulan perempuan-perempuan yang menikah dengan lelaki-lelaki bangsa lain.  "Lho, Bapak dapet dari mana nih?" Ternyata begitu mendengar aku dan kekasihku akan serius Bapak lalu sibuk mencari-cari informasi. Beliau bahkan menghubungi seorang pengurus Srikandi dan bertandang ke rumahnya untuk mengobrol dan bertanya-tanya tentang kesulitan-kesulitan perkawinan antar bangsa.

 

Aku sampai tidak bisa berkata apa-apa. Waktu kuceritakan pada kekasihku tentang apa yang dilakukan Bapak, dia terpana. Waktu bertemu Bapak lagi dia bilang pada Bapak bahwa dia begitu mencintai aku, sebesar cinta Bapak padaku. Dan dia bilang bahwa dia tidak akan kalah berusaha melindungiku. Seperti Bapak.

 

   1 comments

martha
September 25, 2008   08:42 AM PDT
 
Hiks.....jadi terharu......semoga langgeng mbak Nila....

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments