|
Ibuku perempuan Jawa, seperti yang sudah sering kuceritakan. Bukan berarti beliau perempuan yang selalu nrimo. Ibuku cukup keras juga. Beliau bisa marah dan menusuk dengan kata-kata. Apalagi akhir-akhir ini beliau sering setres. Kami semua tau sebabnya. Ibu ingin kami, anak-anaknya, mendapatkan pasangan seperti yang diimpikannya – Katolik, berpendidikan, punya karir, Jawa. Katanya bibit, bebet, bobot itu penting, supaya kami bahagia. Tapi kami besar di jaman yang berbeda dengan Ibu. Lagipula Bapak membesarkan kami dengan pandangannya yang modern dan sedikit liberal. Seperti yang digambarkan Kahlil Gibran, Bapak menganggap kami anak-anak panah. Dibiarkannya kami terbang setelah lepas dari busurnya. Jadilah kami punya pandangan dan prinsip-prinsip yang kadang berbeda dengan mereka. Bahagia menurut kami bisa dicapai tidak dengan standar dan jalur yang digelar Ibu. Entah apa Ibuku menyesali Waktu kubawa kekasihku ini ke hadapan Bapak-Ibu untuk pertama kalinya, aku bukannya tidak takut. Aku mengharapkan restu Bapak-Ibu, tapi tidak yakin bakal mendapatkannya. Aku takut Ibu bakal memberikan pandangan dinginnya pada kekasihku. Waktu kekasihku datang, hanya Bapak yang menemui. Ibuku menghilang di dapur. Aku jadi makin takut. Bapak bisa diajak berbicara dengan kepala dingin, dan aku yakin beliau akan bisa mengerti. Tapi Ibu selalu bicara dengan hati, tidak mudah dihadapi. Supaya ibu mau menerima, sebelumnya sudah kuceritakan pada Ibu apa yang kuceritakan pada Bapak, tentang kekasihku. Malah kuceritakan juga hal-hal lain yang tidak kubilang pada Bapak - seperti bahwa dia pernah menggendongku kemana-mana ketika aku lumpuh, dia pernah terlumuri muntahku dan mencretku. Lelaki mana lagi yang bisa kubegitukan tapi lalu masih menganggapku putri raja yang saat kentutpun tidak bau. Aku katakan pada Ibu aku tau kekasihku bukan calon menantu ideal, tapi aku berharap Ibu mau menerimanya karena aku mencintainya. Tapi ternyata sebetulnya aku tidak perlu bercerita apa-apa. Ibuku sudah percaya kami saling mencintai. Sebegitu mudah? Ataukah beliau sudah putus asa dan menerima siapapun si lelaki, asalkan putrinya ini segera menikah? Kata Bapak tidak begitu. Kata Bapak Ibu sudah menerima kekasihku walaupun dia tidak ideal. Entah kenapa, Ibu tidak pernah menjelaskan. Mungkin beliau cuma merasa kekasihku bisa diandalkan dan bakal bisa membahagiakanku. Yang jelas Ibu saat itu menghilang ke dapur bukan karena enggan berjumpa dengan kekasihku. Ibuku hanya bisa bahasa Jawa dan |
| Leave a Comment: |