Entry: Cinta jilid 4 Wednesday, September 17, 2008



Ibuku perempuan Jawa, seperti yang sudah sering kuceritakan. Bukan berarti beliau perempuan yang selalu nrimo. Ibuku cukup keras juga. Beliau bisa marah dan menusuk dengan kata-kata. Apalagi akhir-akhir ini beliau sering setres. Kami semua tau sebabnya. Ibu ingin kami, anak-anaknya, mendapatkan pasangan seperti yang diimpikannya Katolik, berpendidikan, punya karir, Jawa. Katanya bibit, bebet, bobot itu penting, supaya kami bahagia.

 

Tapi kami besar di jaman yang berbeda dengan Ibu. Lagipula Bapak membesarkan kami dengan pandangannya yang modern dan sedikit liberal. Seperti yang digambarkan Kahlil Gibran, Bapak menganggap kami anak-anak panah. Dibiarkannya kami terbang setelah lepas dari busurnya. Jadilah kami punya pandangan dan prinsip-prinsip yang kadang berbeda dengan mereka. Bahagia menurut kami bisa dicapai tidak dengan standar dan jalur yang digelar Ibu.

 

Entah apa Ibuku menyesali gaya mereka mendidik kami. Karena berkali-kali kami pulang membawa pasangan-pasangan yang bukan seperti yang seideal Ibu harapkan. Ada yang diterimanya dengan senyum, ada yang diterima dengan pandangan dingin. Kebanyakan akhirnya bisa meluluhkan Ibu. Waktu aku putus dengan pacarku yang pertama, Ibu yang menangis lama dan seperti patah hati berbulan-bulan. Hal yang sama terjadi terhadap pacar-pacar adikku perempuan. Bahkan setelah mereka berpisah dengan adikku, mereka masih senang menelepon Ibu. Tapi ada juga yang sampai sekarang masih tetap menerima pandangan dingin beliau. Tidak ada restu di situ.

 

Waktu kubawa kekasihku ini ke hadapan Bapak-Ibu untuk pertama kalinya, aku bukannya tidak takut. Aku mengharapkan restu Bapak-Ibu, tapi tidak yakin bakal mendapatkannya. Aku takut Ibu bakal memberikan pandangan dinginnya pada kekasihku. Waktu kekasihku datang, hanya Bapak yang menemui. Ibuku menghilang di dapur. Aku jadi makin takut. Bapak bisa diajak berbicara dengan kepala dingin, dan aku yakin beliau akan bisa mengerti. Tapi Ibu selalu bicara dengan hati, tidak mudah dihadapi.

 

Supaya ibu mau menerima, sebelumnya sudah kuceritakan pada Ibu apa yang kuceritakan pada Bapak, tentang kekasihku. Malah kuceritakan juga hal-hal lain yang tidak kubilang pada Bapak - seperti bahwa dia pernah menggendongku kemana-mana ketika aku lumpuh, dia pernah terlumuri muntahku dan mencretku. Lelaki mana lagi yang bisa kubegitukan tapi lalu masih menganggapku putri raja yang saat kentutpun tidak bau. Aku katakan pada Ibu aku tau kekasihku bukan calon menantu ideal, tapi aku berharap Ibu mau menerimanya karena aku mencintainya.

 

Tapi ternyata sebetulnya aku tidak perlu bercerita apa-apa. Ibuku sudah percaya kami saling mencintai. Sebegitu mudah? Ataukah beliau sudah putus asa dan menerima siapapun si lelaki, asalkan putrinya ini segera menikah? Kata Bapak tidak begitu. Kata Bapak Ibu sudah menerima kekasihku walaupun dia tidak ideal. Entah kenapa, Ibu tidak pernah menjelaskan. Mungkin beliau cuma merasa kekasihku bisa diandalkan dan bakal bisa membahagiakanku.

 

Yang jelas Ibu saat itu menghilang ke dapur bukan karena enggan berjumpa dengan kekasihku. Ibuku hanya bisa bahasa Jawa dan Indonesia, dan beliau mungkin sudah menyerahkan tugas mewawancarai kekasihku pada Bapak. Beliau lalu menghilang  ke dapur untuk memasak. Begitu kami selesai bicara, Ibu sudah siap dengan masakannya yang sedap. Beliau tahu kekasihku suka sekali masakan buatannya karena aku sudah bercerita bahwa aku dan kekasihku suka berebut makanan yang dibungkuskan Ibu untuk aku. Lalu sejak saat itu Ibu tidak pernah cuma membuat satu bungkusan makanan, tapi dua - satu untukku dan satu untuk kekasihku.

 

 

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments