Entry: Cincin Friday, September 19, 2008



Sudah hampir setahun cincin bermata berlian ini melekat di jari manis kiriku. Walaupun kecil, kilaunya indah sekali, sehingga aku yang tidak terlalu bisa mengapresiasi perhiasanpun sering terpesona. Sesuai tradisi di kampungnya, kekasihku memberikan cincin ini sebagai tanda ikatan dan janji, bahwa kami akan melangkah bersama menuju ke tahap berikut. Tadinya aku sempat protes - kenapa kok cuma aku yang pakai cincin, aku yang 'diikat', mana tanda pengikat di jarimu? Tapi dia cuma tertawa dan berusaha menjelaskan bahwa di kampungnya memang begini tradisinya, bukan seperti tradisi tukar cincin di sini.

 

Waktu pertama menunjukkan cincin ini ke Bapak Ibu dulu aku berharap mereka akan tersenyum bahagia. Ternyata walaupun tersenyum kelihatan juga masih ada waswas di wajah mereka.

 

Memang wajar, karena ini bukan cincin pertama yang kubawa pulang. Sebetulnya ini cincin ketiga yang kubawa pulang dan kutunjukkan pada orang tuaku, bersama dengan lelaki-lelaki yang memberikannya. Gedubrak. Tiga kali tunangan? Hehehe... kedengarannya memang parah sekali ya. Tapi begitulah adanya jalan hidupku.

 

Cincin pertama biasa-biasa saja, murah, karena kami sama-sama tak berduit waktu itu. Cincin itu masih ada di kotak perhiasanku di Jakarta. Si lelaki yang memberikannya? Entahlah dia sudah pergi dari hidupku, semenjak aku menyakiti hatinya dan kemudian memutuskan hubungan kami. Jalan kami jarang bersimpangan dan aku hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Terakhir kudengar sih dia belum menikah juga. Rasa salahku padanya tak pernah bisa hilang.

 

Cincin kedua adalah sepasang cincin emas polos sederhana, yang saling kami pertukarkan sesuai tradisi di Indonesia. Kami memakainya di jari manis kiri kami, rencananya akan dipindah ke jari manis kanan di hari perkawinan. Tapi hari perkawinan itu tidak pernah terjadi. Sekali lagi bara-bara di dada membuatku lupa akan komitmen. Pengakuan berakhir pembalasan dendam. Hasilnya sebuah hubungan yang rusak yang tidak akan bisa dipaksa menjadi baik kembali. Maka kami berpisah dan sepasang cincin itu - yang kami namai Oin & Gloin terinspirasi buku-buku The Lord of the Rings favorit kami - terkubur dalam sepi di pinggiran gurun Mojave yang kering kerontang. Lelaki yang memberikannya? Kami masih berteman, walaupun rasanya belum saling memaafkan. Kabar masih sering terdengar, lewat dunia maya, tempat kami awalnya bertemu.

 

Cincin-cincinku dulu itu adalah saksi perjalananku menjadi dewasa. Perjalanan penuh badai dan carut-marut, pilihan-pilihan yang bobrok, seseorang yang ingin mencapai dan mencapai, tapi lupa pada orang-orang sekeliling. Lupa pada cinta dan sayang, janji dan kesetiaan. Sesorang yang gampang tergoda, senang bermain api dan karenanya sering terbakar.

 

Tapi kuharap cincinku yang sekarang ini bertengger di jemari seseorang yang sudah dewasa, kapal yang sudah capai berlayar dan siap berlabuh. Rasanya sih iya. Lelaki yang memasangkan cincin ini juga pernah punya cincin lain yang jadi saksi proses pendewasaan dirinya. Tapi rasanya kami sekarang sama-sama sudah dewasa. Sudah siap membuat komitmen yang lebih matang. Jiwa kami bukan lagi air bergelombang yang liar menumbuk-numbuk tebing. Jiwa kami sudah seperti air tenang di teluk sunyi.

 

Maka harapku besar sekali pada cincin ini. Semoga bisa bertahan. Tapi malam ini dia akan kulepas. Enggan sekali rasanya, tapi harus kulepas. Sekilas sebelum kotak kututup terlihat pendar kilaunya. Jariku terasa aneh, ringan dan terlihat kosong, ada yang kurang di situ.

 


   4 comments

sewa mobil
January 18, 2011   01:27 PM PST
 
bagus artikelnya
aksesoris wanita
August 24, 2009   09:59 PM PDT
 
iya saya ikuta sori aja , terkesan baik koq
JCH
March 30, 2009   07:32 PM PDT
 
Mbak koenil, koq kesannya mbak jahat yah...atau terbalik? sori kalo salah memahami..
Name
November 13, 2008   08:17 AM PST
 
wow!

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments